HIKMAH | Tawadu, Mengangkat Derajat
Orang yang tawadu bagai pepatah, padi semakin berisi semakin menunduk, sedangkan orang yang sombong bagai pepatah, tong kosong nyaring bunyinya.
Orang berilmu yang tawadu, terpancar dari dirinya cahaya ilmu dan hikmah yang bermanfaat bagi orang lain. Ia bagai pelita dalam kegelapan. Ia bagai oase di tengah padang pasir. Tapi orang berilmu yang sombong, dengan ilmunya akan merusak dirinya, dan bahkan merusak orang lain.
Orang kaya yang tawadu, dengan hartanya ia dekat dengan orang, dekat dengan Allah dan dekat dengan surga. Tapi orang kaya yang sombong, dengan hartanya ia jauh orang, jauh dari Allah, tapi dekat dengan neraka.
Hasan Basri seorang ulama besar ketika ditanya tentang tawadu, ia menjelaskan dengan contoh bahwa ketika engkau keluar rumah, lalu kamu tidak melihat orang kecuali engkau melihat ada kebaikan padanya.
Gambaran yang diungkapkan ini sejalan dengan QS Al-Furqan: 63 (hamba-hamba Tuhan yang berjalan di bumi dalam keadaan lemah lembut…).
Demikian pula QS Al-Isra :37 (Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung).
Gaya atau style seseorang dengan kostum yang digunakan seringkali didasari pada keinginan hati untuk tampil “show”. Dengan motivasi merasa lebih unggul dari yang lain dalam mengenakan busana dianggap sebagai sifat kesombongan.
Berkenaan dengan ini sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah melarang pakaian yang menjulang hingga ke tanah karena kesombongan. Alasan pelarangan itu sesungguhnya bukan pada model pakaian itu, tapi boleh jadi larangan itu dilatari oleh sifat kebanggaan dan kemewahan yang membudaya ketika itu. Karena itu, apa pun model pakaian jika didasari pada kesombongan sesungguhnya terlarang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!