Hauqalah dan Ikhtiar: Rahasia Spiritual Membuka Pintu Rezeki
Namun Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Umar bin Khattab pernah berkata:
لَا يَقْعُدُ أَحَدُكُمْ عَنْ طَلَبِ الرِّزْقِ يَقُولُ اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي فَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنَّ السَّمَاءَ لَا تُمْطِرُ ذَهَبًا وَلَا فِضَّةً
Artinya: “Janganlah salah satu dari kalian duduk diam tidak mencari rezeki sambil berdoa ‘Ya Allah berilah aku rezeki,’ karena kalian tahu langit tidak menurunkan emas dan perak.”
Al-Qur’an pun menegaskan dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 17:
فَابْتَغُوْا عِنْدَ اللّٰهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوْا لَهٗ، اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Artinya: “Maka mintalah rezeki dari sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kamu akan dikembalikan.”
Menurut penjelasan Al-Qusyairi dalam Lathaif Al-Isyarat, didahulukannya perintah mencari rezeki menunjukkan bahwa kecukupan menjadi penopang kekuatan dalam beribadah. Dengan rezeki, seseorang memperoleh tenaga; dengan tenaga, ia mampu beribadah secara optimal.
Dengan demikian, rahasia terbukanya pintu rezeki terletak pada keseimbangan antara zikir dan ikhtiar. Memperbanyak hauqalah, bersabar, dan bertakwa adalah kekuatan batin, sementara bekerja keras adalah wujud ikhtiar lahir. Keduanya berjalan beriringan, menghadirkan keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Wallahu a‘lam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!