Harga Minyak Dunia Tembus US$91,05 Imbas Perang AS-Iran
Kilang minyak./visi.news/@importirorg.
VISI.NEWS - Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan dan menembus US$91,05 per barel pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Kenaikan terjadi setelah kembali pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 56 sen atau 0,6 persen menjadi US$91,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 83 sen atau 1 persen menjadi US$86,59 per barel.
Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent ditutup melonjak 2,7 persen dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 25 Agustus. WTI juga ditutup menguat 2,8 persen dan sempat mencapai level tertinggi sejak 21 Agustus.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran. Ancaman tersebut disampaikan setelah Iran membalas gempuran AS pada Minggu (30/8/2026), yang menjadi aksi saling serang pertama dalam sebulan.
Chief Market Analyst KCM, Tim Waterer, mengatakan perkembangan tersebut kembali meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi dan aktivitas pelayaran di kawasan Teluk.
"Ini membawa potensi pembalasan Iran kembali ke dalam perhitungan. Hal itu kemudian meningkatkan prospek kerusakan terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk dan menambah ketidakpastian baru terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz. Kedua risiko tersebut tercermin dalam penguatan harga minyak mentah," kata Chief Market Analyst KCM Tim Waterer.
Risiko distribusi minyak juga meningkat setelah jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi Selat Hormuz turun menjadi sekitar lima kapal per hari pada akhir pekan, berdasarkan data Kpler.
Upaya mediasi yang dilakukan sejumlah negara, termasuk Qatar dan Oman, untuk membuka kembali Selat Hormuz juga belum membuahkan hasil.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak yang strategis. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur tersebut.
Iran menutup jalur perairan itu setelah AS dan Israel menyerang wilayah Iran pada 28 Februari. Ancaman terhadap aktivitas pelayaran kembali terlihat setelah United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil ketika berlayar keluar dari Selat Hormuz.
Tidak ada korban jiwa maupun dampak lingkungan yang dilaporkan akibat insiden tersebut.
Pasokan Minyak Venezuela Jadi Perhatian Pasar
Selain konflik AS-Iran, perkembangan pasokan minyak dari Venezuela turut menjadi perhatian pasar.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela untuk mengendalikan cadangan minyak negara tersebut. Trump kemudian mengatakan minyak Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis AS atau Strategic Petroleum Reserve (SPR).
Cadangan minyak strategis AS tersebut kini berada di dekat level terendah dalam 44 tahun.
Sejumlah perusahaan energi juga disebut tengah bersiap menandatangani kesepakatan final terkait proyek energi di Venezuela, di antaranya Chevron dan GE Vernova dari AS, ONGC dari India, Eni dari Italia, serta GeoPark dari Kolombia.
Perkembangan konflik di Timur Tengah, kondisi pelayaran di Selat Hormuz, serta potensi perubahan pasokan dari Venezuela menjadi sejumlah faktor yang terus diperhatikan pasar minyak dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!