Gus Maftuh Respons Polemik Buku Islam Ala Prabowo: Jangan Terjebak Judul
“Islam yang kita inginkan adalah Islam yang membuat Indonesia maju, Islam yang rukun, Islam yang menjaga persatuan dan mampu hidup berdampingan dengan rukun, damai dan memegang erat konsesi kebangsaan bersama dengan umat umat beragama lainnya. Itulah wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh potongan informasi, meme, maupun komentar di media sosial yang hanya mengambil judul buku tanpa memahami substansinya.
“Kalau ada yang berbeda pandangan, silakan. Buku adalah ruang intelektual untuk berdiskusi. Tetapi jangan sampai perbedaan tafsir kemudian berubah menjadi fitnah dan saling menghujat. Mari baca bukunya, pahami isinya, baru memberikan penilaian,” kata Gus Maftuh.
Sejumlah Tokoh Berkontribusi dalam Buku
Menurut Gus Maftuh, keterlibatan sejumlah tokoh nasional dalam buku tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai keislaman Prabowo dilakukan melalui berbagai perspektif.
Sejumlah nama yang tercantum dalam rangkaian penyusunan dan kontribusi buku tersebut antara lain Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Prof Dr Abdul Mu’ti, Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, Prof Dr KH Noor Ahmad, KH Anwar Iskandar, serta Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar.
Gus Maftuh menegaskan, terlepas dari pro dan kontra yang muncul, hal terpenting yang perlu diambil adalah bagaimana nilai-nilai agama dapat hadir dalam kehidupan kebangsaan.
“Kalau agama hanya berhenti pada simbol, kita kehilangan substansinya. Islam harus menghadirkan akhlak, keadilan, kepedulian kepada rakyat, persaudaraan dan perdamaian. Kalau nilai-nilai itu bisa diwujudkan dalam kepemimpinan, tentu itu sesuatu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.
Ia berharap buku tersebut tidak dijadikan alat untuk mempertajam polarisasi politik maupun sentimen keagamaan. Sebaliknya, buku tersebut diharapkan menjadi ruang dialog untuk melihat bagaimana nilai keislaman dapat berjalan seiring dengan nasionalisme, demokrasi, kebinekaan, dan cita-cita kemajuan bangsa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!