Gus Heri Luncurkan MotivAction, Inovasi Literasi Islami di Era Digital
VISI.NEWS - Di tengah derasnya arus informasi digital yang mengubah cara masyarakat belajar dan memperoleh pengetahuan, lahir sebuah ikhtiar baru dalam dunia literasi Islam. Setelah bertahun-tahun menemani ribuan pendengar melalui program Voice MotivAction di Radio Suara Muslim Surabaya, Heri Cahyo Bagus Setiawan, atau yang akrab disapa Gus Heri resmi meluncurkan buku MotivAction, sebuah karya yang memadukan literasi dengan teknologi digital melalui pengalaman membaca sekaligus mendengarkan.
Peluncuran buku tersebut berlangsung dalam program Bincang Spesial MotivAction yang disiarkan langsung melalui Radio Suara Muslim Surabaya, YouTube Suara Muslim TV, dan jaringan Suara Muslim Radio Network, Kamis (30/7/2026). Acara dipandu oleh Icha Amalia dan menghadirkan Wakil Sekretaris Komisi Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan (KP3) MUI Jawa Timur, Rangga Sa'adillah, sebagai pembedah buku.
Mengawali dialog, Gus Heri mengungkapkan rasa syukur atas terbitnya MotivAction. Menurutnya, buku tersebut lahir dari sebuah kegelisahan sederhana: jangan sampai pesan-pesan dakwah yang setiap pagi disampaikan melalui radio berakhir begitu saja ketika siaran usai.
"Saya meyakini bahwa dakwah tidak boleh berhenti sebagai suara yang mengudara. Ketika siaran selesai, pesannya harus tetap hidup. Karena itu saya memilih meliterasikan Voice MotivAction menjadi sebuah buku agar manfaatnya dapat terus dibaca, didengarkan, dipelajari, bahkan diwariskan lintas generasi," ujar Gus Heri.
Ia menjelaskan, gagasan tersebut semakin menguat setelah menerima masukan dari sejumlah sahabat dan pendengar yang menginginkan agar materi-materi Voice MotivAction dapat diakses kapan saja, tanpa dibatasi waktu siaran radio.
Namun, MotivAction bukan sekadar transformasi dari siaran menjadi buku. Gus Heri menegaskan bahwa buku ini dibangun di atas keyakinan bahwa perubahan hidup harus dimulai dari penguatan fondasi keimanan.
"Bab pertama saya beri judul Mukmin yang Dicintai Allah. Sebab ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan sekadar jabatan atau kekayaan, melainkan bagaimana ia menjadi hamba yang dicintai Allah. Mukmin yang kuat bukan hanya kuat ilmunya, tetapi juga kuat akhlaknya, kuat fisiknya, dan kuat secara ekonomi sehingga mampu memberi manfaat bagi orang lain," jelasnya.
Keunikan MotivAction terletak pada inovasi yang dihadirkan dalam setiap akhir bab. Pembaca tidak hanya menemukan tulisan, tetapi juga QR Code yang dapat dipindai untuk mendengarkan rekaman asli Voice MotivAction. Dengan demikian, pengalaman menikmati buku tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berlanjut melalui suara penulis yang menyampaikan refleksi secara langsung.
Bagi Dr. Rangga Sa'adillah, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa dakwah perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan substansi ajaran Islam.
Ia menilai, perubahan cara manusia memperoleh ilmu merupakan salah satu tantangan terbesar pada era digital saat ini.
"Saat ini kita hidup di era disrupsi. Apa yang dahulu berjalan linier, kini berubah sangat cepat. Dahulu Imam Bukhari harus melakukan perjalanan panjang dan bertemu langsung dengan para perawi hadis untuk memastikan keabsahan ilmu yang beliau kumpulkan. Hari ini, cara belajar telah berubah. Seseorang tidak harus bertemu langsung dengan gurunya untuk memperoleh ilmu. Demikian pula dengan MotivAction. Ketika seseorang membutuhkan motivasi, ia tidak harus bertemu Gus Heri. Cukup membaca bukunya, atau ketika sedang enggan membaca, tinggal memindai QR Code, maka Gus Heri seolah hadir berbicara di dekat kita. Menurut saya, inilah bentuk dakwah inovatif yang dibutuhkan generasi digital," paparnya.
Menurut Rangga, kekuatan lain MotivAction justru terletak pada kesederhanaan bahasanya. Buku tersebut tidak hanya ditujukan bagi kalangan akademisi, tetapi dapat dinikmati oleh siapa pun, dari berbagai profesi dan latar belakang.
"Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja. Guru, dosen, pegawai, pelaku usaha, sopir, hingga pengemudi ojek online. Bahasanya membumi, tidak membuat pembaca harus mengernyitkan dahi. Istilah seperti decision making dijelaskan dengan sederhana sehingga mudah dipahami. Bahkan istilah lokal seperti ambekan pun diberi penjelasan agar pembaca dari luar Jawa dapat memahami maknanya. Inilah yang membuat buku ini terasa dekat dengan masyarakat," katanya.
Ia kemudian menutup pembahasannya dengan sebuah analogi yang mengundang senyum para peserta.
"Membaca buku ini seperti makan kacang. Mungkin tidak langsung membuat kenyang, tetapi memberi gizi. Buku ini memang tidak tebal, tetapi berdaging. Sedikit demi sedikit pembaca memperoleh energi, wawasan, dan inspirasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
Diskusi yang berlangsung interaktif tersebut juga diwarnai antusiasme para pendengar dan pemirsa yang mengajukan berbagai pertanyaan mengenai proses kreatif penulisan buku, pentingnya membangun budaya literasi, hingga tantangan dakwah di tengah perkembangan teknologi digital.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi publik, host Icha Amalia menutup acara dengan mengumumkan tiga penanya terbaik yang berhak memperoleh buku MotivAction. Penghargaan tersebut menjadi simbol bahwa literasi tumbuh melalui dialog, rasa ingin tahu, dan semangat berbagi pengetahuan.
Peluncuran MotivAction tidak sekadar menandai terbitnya sebuah buku baru. Lebih dari itu, momentum tersebut menghadirkan sebuah gagasan bahwa dakwah perlu terus menemukan cara-cara baru untuk menjangkau masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasinya. Ketika teknologi sering dipandang sebagai tantangan bagi dunia literasi, MotivAction justru memperlihatkan bahwa keduanya dapat saling menguatkan.
Melalui perpaduan antara refleksi kehidupan, nilai-nilai Islam, bahasa yang membumi, dan inovasi digital, MotivAction menawarkan pengalaman literasi yang berbeda. Pembaca tidak hanya diajak memahami inspirasi melalui tulisan, tetapi juga merasakan kedekatan pesan melalui suara penulis yang hadir di setiap akhir bab.
Di tengah masyarakat yang semakin akrab dengan gawai dan semakin terbatas oleh waktu, pendekatan tersebut menjadi ikhtiar agar dakwah tetap hidup, dekat, dan relevan. Bukan hanya sebagai bacaan yang selesai ketika halaman terakhir ditutup, tetapi sebagai inspirasi yang terus menyertai perjalanan hidup pembacanya. Dari ruang siaran radio, MotivAction kini melangkah menjadi bagian dari gerakan literasi yang berupaya menghubungkan ilmu, teknologi, dan nilai-nilai Islam dalam satu kesatuan yang utuh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!