REFLEKSI | Gelar Abu Jahal
Bagaimana seorang yang 'cerdas, brilyan,' sampai disebut Abu Jahal? padahal ia seorang pemuka masyarakat Mekah, seorang pemimpin yang disegani di Bani Quraisy ? Bagaimana Abu Jahal di masa kini ? Seperti apa peran Abu Jahal di era kekinian?
Nabi SAW merupakan seorang yang sangat kuat dalam mengajak orang, penduduk Mekah, dalam menuju kebaikan, masuk ke cahaya Illahi. Kebenaran risalah, akan apa yang di sampaikan Nabi SAW kepada seluruh umat, sebenarnya di akui abu Jahal. Hanya saja karena disebabkan, ego, dan rasa iri, dengki, merasa adanya persaingan antar suku, itu yang mendasari ia menolak kata hatinya sendiri, menolak kebenaran, menolak kebaikan untuk dirinya sendiri.
Hingga ibarat air dan minyak tanah, walau keduanya disatukan, masih dalam satu ikatan saudara sepupu, tapi tetap, bagi Abu Jahal, ia di pisahkan oleh sekat yang namanya kebencian penuh dendam, iri, dengki, jahil, dan aniaya.
Dan perseteruan antara Nabi SAW dengan Abu Jahal sebagai sepupunya, terus berlanjut, sampai Islam terus membesar, dan abu Jahal mati dengan membawa kebenciannya, ia terbunuh dalam perang Badar, dimana dia adalah penyulut terjadinya perang saudara itu, dan Perang Badar adalah perang antara suku Quraisy yang terbelah menjadi dua (perang saudara ) yang satu sisi memihak Nabi Muhammad SAW, dan suku Quraisy lainnya, yang memihak, membela, dan berada di barisan Abu Jahal itu.
Menjawab bagaimana Abu Jahal Masa kini ?
Abu Jahal masa kini pastinya sangat jelas terasa, terlihat secara kasat mata. Ia ada dalam barisan orang-orang intelek, dengan berbagai gelar akademisi, namun dihatinya menyimpan rasa hasut, dendam, iri dan dengki, serta kebencian!
Seorang Abu Jahal Masa kini, ia sangat ; 1. Mampu menebarkan kebencian, dengan menghipnotis masyarakat kita yang kurang cerdas, yang percaya dengan titel keilmuannya. 2. Ia mampu menampilkan dirinya, menjadi manusia yang tidak memiliki kepercayaan dirinya (Bunglon) tak berintegritas, demi mengejar popularitas, dengan jalan salah, yang akhirnya kandas sendiri. 3. Mampu menempel dan hinggap di sektor yang ia hujat, padahal ia mengais rezeki di wilayah yang ia benci, hanya untuk sesuap nasi, ia bisa gadaikan harga diri, dan menyimpan sementara rasa malunya, bagi keuntungannya pribadi. 4. Ia tak akan pernah berkontribusi baik, malah ia menjadi duri dalam daging, yang terus mengerogoti apa yang diamanahkan kepadanya. 5. Ia mampu menjadi boneka kebencian, yang perilakunya disetir pihak lain, yang ia anggap itu sekutunya di masa depan, yang akan bisa melindunginya suatu saat nanti, ketika peran busuknya terbongkar. 6. Ia mampu berkata dusta, manis di bibir, namun beda dalam implementasinya di lapangan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!