REFLEKSI | Gelar Abu Jahal
Oleh Bambang Melga Suprayogi M.Sn.
ABU JAHAL adalah nama populer yang banyak masyarakat Islam kenal, di banding sahabat utama nabi lainnya, yang namanya di tulis dalam buku 'Karakteristik Perikehidupan 60 Sahabat Rosululloh,' karangan Khalid Muhammad Khalid, seorang penulis Mesir, yang buku-bukunya terus di cetak ulang, dan diterbitkan oleh penerbit di negeri kita, Indonesia.
Mengapa Abu Jahal di kenal ? Siapa dia sesungguhnya ?
Abu Jahal adalah julukan yang diberikan Nabi SAW. Nama asli Abu Jahal Adalah Amr bin Hisyam bin Mughirah. Ia adalah sepupu jauh Baginda Rasulullah, yang tertaut nasab pada kakek buyut yang sama, yakni Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib.
Julukan Abu Jahal atau ( orang bodoh ) yang disematkan, oleh Baginda Nabi SAW kepadanya, karena di sebabkan ia tidak mau berintrospeksi diri, ketika Allah menyebutkan namanya dalam Surat di Al Quran, dan tercatat di sana sebagai suatu kabar peringatan untuk dijadikan pelajaran, yang harusnya membuat dirinya sadar.
Padahal sebelum gelar itu di berikan oleh Nabi SAW, Abu Jahal, di kenal dengan sebutan, Abu Al-Hakam, atau bapak kebijaksanaan. Ini disebabkan karena dia dikenal di Mekah, dan di kalangan Bani Quraisy, dengan kecerdasan dan ketepatan pendapatnya.
Beberapa ayat dari Qur'an yang di tujukan pada Abu Jahal, merupakan penggambaran bagaimana Allah mensyifatinya...
Adapun penyifatan itu terdapat pada Qur'an surat ; 1. Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami, (Q.S. Al-Israa’ : 90)
2. Atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, (Q.S. Al-Israa’ : 91)
3. Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. (Q.S. Al-Israa’ : 92)
4. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca." Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?" (Q.S. Al-Israa’ : 93)
5. Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. (Q.S. Al-Furqaan : 31)
6. Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): "Inikah orangnya yang di utus Allah sebagai Rasul? (Q.S. Al-Furqaan : 41)
7. Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya. (Q.S. Al-Furqaan : 55)
8. Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia. (Q.S. Ad-Dukhaan : 49)
9. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, (Q.S. Al-‘Alaq : 6)
Bagaimana seorang yang 'cerdas, brilyan,' sampai disebut Abu Jahal? padahal ia seorang pemuka masyarakat Mekah, seorang pemimpin yang disegani di Bani Quraisy ? Bagaimana Abu Jahal di masa kini ? Seperti apa peran Abu Jahal di era kekinian?
Nabi SAW merupakan seorang yang sangat kuat dalam mengajak orang, penduduk Mekah, dalam menuju kebaikan, masuk ke cahaya Illahi. Kebenaran risalah, akan apa yang di sampaikan Nabi SAW kepada seluruh umat, sebenarnya di akui abu Jahal. Hanya saja karena disebabkan, ego, dan rasa iri, dengki, merasa adanya persaingan antar suku, itu yang mendasari ia menolak kata hatinya sendiri, menolak kebenaran, menolak kebaikan untuk dirinya sendiri.
Hingga ibarat air dan minyak tanah, walau keduanya disatukan, masih dalam satu ikatan saudara sepupu, tapi tetap, bagi Abu Jahal, ia di pisahkan oleh sekat yang namanya kebencian penuh dendam, iri, dengki, jahil, dan aniaya.
Dan perseteruan antara Nabi SAW dengan Abu Jahal sebagai sepupunya, terus berlanjut, sampai Islam terus membesar, dan abu Jahal mati dengan membawa kebenciannya, ia terbunuh dalam perang Badar, dimana dia adalah penyulut terjadinya perang saudara itu, dan Perang Badar adalah perang antara suku Quraisy yang terbelah menjadi dua (perang saudara ) yang satu sisi memihak Nabi Muhammad SAW, dan suku Quraisy lainnya, yang memihak, membela, dan berada di barisan Abu Jahal itu.
Menjawab bagaimana Abu Jahal Masa kini ?
Abu Jahal masa kini pastinya sangat jelas terasa, terlihat secara kasat mata. Ia ada dalam barisan orang-orang intelek, dengan berbagai gelar akademisi, namun dihatinya menyimpan rasa hasut, dendam, iri dan dengki, serta kebencian!
Seorang Abu Jahal Masa kini, ia sangat ; 1. Mampu menebarkan kebencian, dengan menghipnotis masyarakat kita yang kurang cerdas, yang percaya dengan titel keilmuannya. 2. Ia mampu menampilkan dirinya, menjadi manusia yang tidak memiliki kepercayaan dirinya (Bunglon) tak berintegritas, demi mengejar popularitas, dengan jalan salah, yang akhirnya kandas sendiri. 3. Mampu menempel dan hinggap di sektor yang ia hujat, padahal ia mengais rezeki di wilayah yang ia benci, hanya untuk sesuap nasi, ia bisa gadaikan harga diri, dan menyimpan sementara rasa malunya, bagi keuntungannya pribadi. 4. Ia tak akan pernah berkontribusi baik, malah ia menjadi duri dalam daging, yang terus mengerogoti apa yang diamanahkan kepadanya. 5. Ia mampu menjadi boneka kebencian, yang perilakunya disetir pihak lain, yang ia anggap itu sekutunya di masa depan, yang akan bisa melindunginya suatu saat nanti, ketika peran busuknya terbongkar. 6. Ia mampu berkata dusta, manis di bibir, namun beda dalam implementasinya di lapangan.
Lalu seperti apa peran Abu Jahal di era kekinian ? Perannya selalu akan sama dengan karakter Abu Jahal masa lalu di jaman Nabi SAW, ia membenci proses menuju upaya perbaikan.
Apapun yang bisa ditunjukan sebagai suatu upaya kemajuan yang sudah dicapai, walau dengan bukti nyata, dan sangat kongkrit, ia akan selalu menolak itu ! Lihat point' 1 sampai 9 yang penulis nukilkan dari perbendaharaan surat di Al Quran.
Jadi, apapun yang sudah baik dilakukan oleh Nabi SAW di jamannya, dan oleh umaro di masa ini, akan selalu dianggap sebuah kehancuran, tidak ia percayai, dianggap merugikan, dan mengatasnamakan rakyat, ia bisa berkata, "Indonesia akan tengelam!" padahal, upaya mengejar ketertinggalan Negeri ini, terus digenjot dan dibenahi kekusutannya.
Peran Abu Jahal dari masa ke masa, telah digambarkan dalam nukilan ayat di surat-surat yang ada dalam Al Qur'an. Seperti jaman Nabi SAW, kita ada di dua kubu yang saling bersebrangan.
Ada kubu Abu Jahal dimasa lalu, dengan kubu Nabi SAW. Ada kubu Abu Jahal masa kini, dengan kubu umara. Dua-duanya saling berhadapan, tinggal bisa saja kita akan dikagetkan oleh pekikan perang saudara, yang akan gelorakan di inisiasi dari kalangan Abu Jahal. Siapapun itu orangnya, pada saatnya kita akan tahu dan faham.
Dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, diantaranya Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu.” (Q.S. An-Nisa’ : 59)
Dan Abu Jahal, akan selalu menentang Nabi SAW di jamanya, di era kini, Abu Jahal akan menentang umara...
Siapa Abu Jahal sesungguhnya di masa kini ? Hanya Allah yang akan menjawabnya ! Dan sejarah akan mencatat kebodohannya !
Bagi kalangan cerdik pandai, janganlah kita sampai mendapatkan gelar Abu Jahal itu ! Sebagai kaum berpikir, layaknya kita ikut ambil bagian dalam mencerdaskan umat, agar tidak terjebak masuk dalam barisan Abu Jahal yang terus sedang menambah pasukannya.
Ada di barisan mana kita ? Hanya kata hati, dan kemampuan kita bisa membaca pengalaman masa lalulah, kita akan sanggup melakukan pilihan, dan terselamatkan.
Jikapun dikata kepemimpinan yang ada adalah sebagai pemimpin zalim, seperti amanat Nabi SAW, tetaplah kita harus ada dalam baiat kepadanya...keluar dari itu, kita akan mendapat kemurkaan Allah.
Alhamdulillah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!