ESG Bukan Lagi Formalitas
Ilustrasi. /visi.news/ai
Namun di balik meningkatnya jumlah laporan, kualitas justru dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kajian Amerta menunjukkan volume pelaporan meningkat hingga 69 persen, tetapi skor pengungkapan lingkungan turun lebih dari 40 persen pada periode yang sama. Bahkan hanya sekitar 37 persen perusahaan publik yang melaporkan kinerja keberlanjutan sesuai standar ESG secara memadai.
Menurut Dr. Tri Adi Sumbogo, kondisi ini menunjukkan banyak perusahaan masih terjebak pada pendekatan compliance-only—menyusun laporan hanya untuk memenuhi aturan, bukan sebagai bagian dari strategi bisnis. Ia mengingatkan pendekatan administratif semacam ini justru bisa menggerus kredibilitas perusahaan, bahkan membuka risiko greenwashing bila laporan tidak didukung data kuat dan verifikasi independen.
Persoalan ini menjadi semakin penting karena tekanan investor global terhadap praktik Environmental, Social and Governance terus meningkat. ESG kini bukan lagi sekadar nilai tambah reputasi, tetapi mulai menjadi salah satu faktor utama keputusan investasi. Perusahaan yang gagal menunjukkan transparansi, mitigasi risiko, dan kesiapan menghadapi tantangan keberlanjutan berisiko kehilangan akses pembiayaan, investor, bahkan pasar.
Di tengah situasi ini, konsep laporan keberlanjutan pun berubah. Jika dulu cukup bersifat historis—melaporkan apa yang sudah dilakukan—kini pasar menuntut lebih jauh: bagaimana perusahaan memproyeksikan masa depan. Analisis berbasis skenario, proyeksi risiko iklim, strategi ketahanan rantai pasok, hingga kesiapan transisi energi mulai dipandang sebagai isi yang wajib hadir dalam laporan keberlanjutan modern.
“Pertanyaan utamanya bukan lagi apa yang sudah dilakukan perusahaan, tetapi bagaimana perusahaan akan bertahan di tengah krisis yang makin kompleks,” kata Riza. Pernyataan ini mencerminkan pergeseran mendasar: sustainability report bukan lagi dokumen pelengkap reputasi, tetapi cermin strategi korporasi.
Sebagai respons, Amerta mendorong perusahaan mulai menempatkan ESG dalam inti model bisnis, bukan di pinggir sebagai agenda komunikasi. Penguatan sistem data, integrasi risiko keberlanjutan ke strategi korporasi, serta penggunaan *external assurance* disebut menjadi kunci untuk meningkatkan kredibilitas di mata investor dan pemangku kepentingan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!