Erupsi Anak Krakatau, 8 Bandara Ditutup dan 150 Ribu Penumpang Terdampak
VISI.NEWS - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan keselamatan dan keamanan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah dalam menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Penyebaran abu vulkanik membuat operasional penerbangan di sejumlah wilayah harus dihentikan sementara demi mencegah risiko terhadap keselamatan penerbangan.
Pemerintah memastikan keputusan penutupan bandara dilakukan berdasarkan hasil pemantauan kondisi abu vulkanik di ruang udara. Jika konsentrasi abu masih dinilai membahayakan, operasional penerbangan tidak akan dipaksakan untuk kembali berjalan.
“Apabila memang seperti tadi, masa sebaran masih banyak, kemudian paper test-nya masih positif, maka kami tidak akan memaksakan bandara tersebut dibuka atau pengoperasian pesawat dilakukan,” ujar Dudy saat memantau langsung kondisi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026).
Soekarno-Hatta Ditutup Sementara
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau, termasuk pergerakan dan konsentrasi abu vulkanik yang berpotensi memasuki jalur penerbangan.
Berdasarkan NOTAM A3348/26, Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara pada Minggu, 6 September 2026, mulai pukul 13.23 hingga 17.30 WIB (estimasi), akibat adanya sebaran abu vulkanik Gunung Krakatau. NOTAM tersebut menggantikan NOTAM A3346/26.
Penutupan tersebut merupakan langkah mitigasi untuk memastikan pesawat tidak beroperasi di tengah kondisi ruang udara yang berpotensi mengandung abu vulkanik.
Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena dapat mengganggu komponen mesin pesawat dan sistem penerbangan. Karena itu, pemerintah memilih pendekatan kehati-hatian dengan menghentikan sementara operasi apabila kondisi belum memungkinkan.
Delapan Bandara Ikut Terdampak
Gangguan tidak hanya terjadi di Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah bandara lainnya juga mengalami penutupan sementara sebagai dampak penyebaran abu vulkanik.
Bandara yang terdampak antara lain:
- Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
- Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
- Bandara Radin Inten II, Lampung.
- Bandara Husein Sastranegara, Bandung.
- Bandara Budiarto, Curug.
- Bandara Pondok Cabe.
- Bandara Taufik Kiemas.
- Bandara Atung Bungsu.
Penutupan sejumlah bandara tersebut memberikan dampak besar terhadap perjalanan udara. Pemerintah mencatat sekitar 150.000 penumpang terdampak, sementara jumlah penerbangan yang mengalami gangguan mencapai 467 penerbangan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 409 penerbangan merupakan penerbangan domestik dan 58 penerbangan lainnya merupakan penerbangan internasional.
Besarnya jumlah penerbangan terdampak membuat pemerintah meminta seluruh maskapai segera mengambil langkah untuk menangani penumpang dan tidak membiarkan calon penumpang menunggu tanpa kepastian.
Maskapai Diminta Tak Biarkan Penumpang Menunggu
Dudy meminta maskapai memberikan informasi yang cepat, akurat, dan transparan mengenai kondisi penerbangan kepada seluruh penumpang.
Informasi tersebut mencakup perubahan jadwal, pembatalan, hingga kemungkinan pengalihan penerbangan ke bandara lain.
Pemerintah juga menekankan bahwa hak penumpang harus tetap dipenuhi meskipun pembatalan terjadi akibat kondisi alam.
“Airlines untuk segera menyampaikan kepada para penumpang supaya mereka tidak menunggu terlalu lama. Mengingat kondisinya juga belum bisa kita prediksi sampai kapan,” kata Dudy.
Menurutnya, penumpang yang penerbangannya dibatalkan tidak boleh dibiarkan menunggu dengan harapan bandara segera dibuka. Kepastian mengenai pengembalian tiket menjadi salah satu hak yang harus dijamin maskapai sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemerintah juga membuka kemungkinan pengalihan penerbangan menuju sejumlah bandara alternatif, antara lain Kertajati, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta, dengan mempertimbangkan kondisi operasional serta keselamatan penerbangan.
Bandara Tidak Akan Dibuka Jika Abu Masih Berbahaya
Dudy menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru membuka kembali bandara sebelum kondisi benar-benar dinyatakan aman.
Menurutnya, keputusan tersebut harus didasarkan pada data dan hasil pemantauan di lapangan. Pemerintah akan membuka kembali operasional penerbangan apabila kondisi keselamatan sudah dapat dipastikan.
“Kita akan membuka kalau memang kita jamin bahwa kondisi keselamatan itu sudah bisa kita ketahui dengan pasti,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kelancaran penerbangan tidak menjadi satu-satunya pertimbangan dalam situasi erupsi. Faktor keselamatan penumpang, awak pesawat, dan kesiapan ruang udara menjadi prioritas.
Kementerian Perhubungan juga meminta operator memastikan petugas serta saluran informasi tersedia di bandara untuk membantu penumpang yang mengalami perubahan perjalanan.
Penumpang Diminta Jangan Terburu-buru ke Bandara
Bagi masyarakat yang memiliki jadwal penerbangan dari atau menuju bandara terdampak, pemerintah mengimbau agar tidak langsung berangkat ke bandara sebelum memastikan status penerbangannya.
Penumpang disarankan menghubungi maskapai masing-masing untuk mengetahui apakah penerbangan tetap berjalan, ditunda, dialihkan, atau dibatalkan.
Langkah tersebut dinilai penting karena kondisi operasional masih dapat berubah mengikuti perkembangan penyebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Dengan kondisi yang belum dapat dipastikan, kedatangan penumpang ke bandara tanpa kepastian jadwal justru berpotensi menambah kepadatan dan menyulitkan proses penanganan.
Merak-Bakauheni Masih Beroperasi
Sementara itu, gangguan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau belum membuat layanan angkutan penyeberangan lintas Merak-Bakauheni dihentikan.
Dudy mengatakan berdasarkan pemantauan Kementerian Perhubungan, layanan penyeberangan di lintasan tersebut masih berjalan normal.
“Merak masih beroperasi. Terhadap gelombang, sampai sejauh ini belum ada laporan yang mengatakan bahwa kita harus menghentikan operasionalnya,” jelasnya.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai dampak abu vulkanik terhadap kesehatan penumpang dan awak kapal.
Penyebaran abu menjadi faktor yang harus terus dipantau karena dapat memengaruhi kualitas udara dan kenyamanan masyarakat yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Jika kondisi abu dinilai mulai memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan penumpang maupun awak kapal, operasional penyeberangan juga dapat dievaluasi.
Keselamatan Jadi Pertimbangan Utama
Dudy meminta seluruh operator kapal dan pengelola pelabuhan tetap menjalankan prosedur keselamatan secara disiplin. Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap abu vulkanik, tetapi juga kondisi cuaca dan perairan.
Kesiapan kapal, awak kapal, fasilitas pelabuhan, serta pelayanan kepada pengguna jasa juga harus dipastikan sebelum kegiatan operasional dilanjutkan.
Pemerintah pada akhirnya menempatkan keselamatan sebagai batas utama dalam menentukan apakah transportasi tetap berjalan atau harus dihentikan sementara.
Di tengah kondisi erupsi yang masih berkembang, masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dan tidak mengambil keputusan perjalanan hanya berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
Bagi pengguna transportasi udara, langkah paling aman adalah memastikan status penerbangan kepada maskapai sebelum menuju bandara. Sementara bagi pengguna angkutan penyeberangan, perkembangan cuaca, kondisi perairan, dan arahan petugas tetap harus menjadi perhatian.
Erupsi Gunung Anak Krakatau dengan demikian tidak hanya menjadi persoalan aktivitas vulkanik, tetapi juga memberikan efek berantai terhadap mobilitas masyarakat. Pemerintah dan seluruh operator transportasi kini dituntut bergerak cepat agar keselamatan tetap terjaga sekaligus memastikan hak dan kebutuhan penumpang yang terdampak tetap terpenuhi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!