Emas Anjlok, Antam Kini Rp2,67 Juta

ED
PN
Minggu, 30 Agustus 2026 | 07:23 WIB
Bagikan
Emas Anjlok, Antam Kini Rp2,67 Juta

Untuk UBS, harga 0,5 gram berada di Rp1.434.000, 2 gram Rp5.267.000, 5 gram Rp13.051.000, 10 gram Rp25.893.000, 25 gram Rp64.604.000, 50 gram Rp128.942.000, 100 gram Rp257.784.000, 250 gram Rp644.268.000, dan 500 gram Rp1,287 miliar. 

Sementara harga Galeri24 di Pegadaian untuk 0,5 gram berada di Rp1.369.000, 1 gram Rp2.611.000, 2 gram Rp5.158.000, 5 gram Rp12.799.000, 10 gram Rp25.531.000, 25 gram Rp63.483.000, 50 gram Rp126.866.000, 100 gram Rp253.607.000, 250 gram Rp632.460.000, dan 500 gram Rp1.264.918.000. 

Untuk emas Antam di kanal resmi Logam Mulia, harga 0,5 gram tercatat Rp1.385.000 sebelum pajak, sedangkan ukuran 2 gram Rp5.280.000, 3 gram Rp7.895.000, 5 gram Rp13.125.000, 10 gram Rp26.195.000, 25 gram Rp65.362.000, 50 gram Rp130.645.000, 100 gram Rp261.212.000, 250 gram Rp652.765.000, dan 500 gram Rp1.305.320.000 sebelum PPh. Setelah PPh 0,25 persen, harga 1 gram menjadi Rp2.676.675. 

Koreksi harga emas domestik tersebut tidak terlepas dari tekanan yang terjadi di pasar emas global. Pada Jumat (28/8), harga emas dunia anjlok lebih dari 3 persen setelah pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh meningkatkan ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat masih dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkan suku bunga apabila inflasi belum bergerak meyakinkan menuju target.

Reuters melaporkan harga emas spot turun 2,9 persen menjadi US$4.567,23 per troy ounce pada perdagangan Jumat. Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Desember juga turun 2,9 persen menjadi US$4.529,90 per troy ounce. 

Tekanan terhadap emas semakin kuat setelah pasar meningkatkan perkiraan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed. Menurut data CME FedWatch yang dikutip Reuters, probabilitas kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi 58 persen dari 36 persen sebelum pernyataan Warsh. Untuk Desember, probabilitas kenaikan meningkat hingga 89 persen. 

Situasi tersebut menjadi masalah bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Ketika suku bunga dan imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, biaya peluang memegang emas menjadi lebih tinggi. Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. 

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.