Ayah Tunggal Pilih Jadi Driver Online Demi Rawat Anak Balita 7 Aug 2026 Nikah di KUA Makin Diminati, Pasangan Muda Pilih Sederhana dan Praktis 7 Aug 2026 VISI | Khidmah Strategis Muktamar NU 7 Aug 2026 Bandung-Lampung Kembali Terhubung, Wings Air Resmi Buka Penerbangan Perdana dari Bandara Husein 7 Aug 2026 BMKG: Bandung pada Jumat (7/8/2026) Cerah Berawan, Suhu Capai 31 Derajat 7 Aug 2026 KHUTBAH JUMAT | 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim 7 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Jumat 7 Agustus 2026 7 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Jumat 7 Agustus 2026 7 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 7 Agustus 2026 7 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 7 Agustus 2026 7 Aug 2026 Ayah Tunggal Pilih Jadi Driver Online Demi Rawat Anak Balita 7 Aug 2026 Nikah di KUA Makin Diminati, Pasangan Muda Pilih Sederhana dan Praktis 7 Aug 2026 VISI | Khidmah Strategis Muktamar NU 7 Aug 2026 Bandung-Lampung Kembali Terhubung, Wings Air Resmi Buka Penerbangan Perdana dari Bandara Husein 7 Aug 2026 BMKG: Bandung pada Jumat (7/8/2026) Cerah Berawan, Suhu Capai 31 Derajat 7 Aug 2026 KHUTBAH JUMAT | 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim 7 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Jumat 7 Agustus 2026 7 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Jumat 7 Agustus 2026 7 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Jumat 7 Agustus 2026 7 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Jumat 7 Agustus 2026 7 Aug 2026

Ekonom Faisal Basri Kritik Keras Rencana Bea Masuk 200% Keramik China: "KADI Seperti Jurus Pesilat Mabok!"

ED
Selasa, 16 Juli 2024 | 17:00 WIB
Bagikan
Ekonom Faisal Basri Kritik Keras Rencana Bea Masuk 200% Keramik China: "KADI Seperti Jurus Pesilat Mabok!"

VISI.NEWS | JAKARTA - Ekonom senior Faisal Basri melontarkan kritik pedas terhadap rencana pemerintah mengenakan bea masuk hingga 200% untuk produk keramik impor dari China. Ia menilai kebijakan ini tidak hanya asal-asalan, tapi juga berpotensi membawa dampak buruk bagi perekonomian Indonesia.

Menurut Faisal, rencana ini diambil tanpa analisis mendalam dan terkesan asal-asalan. Ia bahkan menyebut Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) yang merekomendasikan kebijakan tersebut sebagai "jurus pesilat mabok".

"KADI ini seperti jurus pesilat mabok, semua dilibas," kritik Faisal dalam diskusi di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) bertajuk "Dampak Penerapan BMAD untuk Keramik", Selasa (16/7/2024).

Faisal menampik anggapan bahwa lonjakan impor keramik China disebabkan oleh praktik dumping, di mana produk dijual dengan harga jauh lebih murah di luar negeri dibandingkan di negara asal. Menurutnya, peningkatan impor terjadi karena pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

"Peningkatan impor dari China pada Juli 2021 hingga Juni 2022 itu ya karena sudah pulih dibandingkan masa Covid. Seluruh perekonomian seperti itu," jelas Faisal.

Ia menambahkan, pulihnya ekonomi juga terlihat dari sektor terkait keramik, seperti konstruksi dan real estate. Kedua sektor ini mengalami tekanan pertumbuhan selama 2020, namun perlahan bangkit seiring meredanya pandemi.

Faisal menegaskan, solusi untuk menekan laju impor keramik China bukan dengan menaikkan bea masuk secara drastis. Menurutnya, pemerintah perlu fokus pada peningkatan daya saing industri keramik dalam negeri.

"Yang kita perlukan adalah meningkatkan daya saing industri keramik dalam negeri, bukan menaikkan bea masuk," tegasnya.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.