E Karmana, Tak Pernah Lelah Mencintai Citarum
VISI.NEWS | KAB. BANDUNG - Garis-garis wajahnya mulai banyak keriput, seperti menggambarkan jauhnya perjuangan yang telah dilalui. Tapi, kecintaannya pada lingkungan menjadikan ia tak pernah lelah mencintai Sungai Citarum.
E. Karmana atau biasa disapa Abah adalah sosok pejuang lingkungan "terpanggil" untuk mencurahkan semua pikiran dan tenaganya agar sungai legenda ini tidak selalu menjadi sumber musibah. Pria yang lahir di Cibadak, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung pada 7 Juni 1962, selepas sekolah pernah melanglang buana sampai ke beberapa negara Eropa dan Asia.
"Namun saat bertugas di Tanjung Priok, saya seperti mendapat panggilan batin untuk memperhatikan kondisi Sungai Citarum yang semakin parah akibat banjir dan sedimentasi. Keprihatinan saya ini sampai mendorong saya melakukan jalan kaki pada tahun 2010 dari hulu Sungai Citarum di Cisanti, Kecamatan Kertasari, hingga ke hilirnya di Muaragembong, Kabupaten Karawang, " ungkap suami dari Ati Amitayani dan ayah dari tiga orang putra putri ini.
Sejak muda, diakui Karmana, dirinya aktif di lingkungan sekitarnya dan memiliki kepedulian tinggi terhadap berbagai persoalan sosial dan lingkungan. Sehingga, perjalanan menyusuri sungai itu membuat tantangan tersendiri baginya, untuk memastikan apa yang membuat sungai ini membawa banjir musiman.
Pengamatan langsung terhadap kondisi Citarum menginspirasi Karmana untuk membuat konsep penataan sungai secara lebih sistematis dan berkelanjutan. Karena pengajuan secara individu dirasa sulit, ia kemudian membentuk LSM Generasi Penerus Perjuangan Negara Kesatuan Republik Indonesia (GPP NKRI). Organisasi ini segera mendapatkan badan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM serta memperoleh rekomendasi dari Kementerian PUPR dan Kementerian Kehutanan.
Konsep utama yang diusung Karmana adalah konservasi dan rehabilitasi daerah aliran Sungai Citarum agar lebih ramah lingkungan dan hijau. Ia menyadari bahwa mengembalikan Citarum seperti kondisi tahun 1970-an hampir mustahil. Oleh karena itu, fokusnya adalah normalisasi sungai dengan mengoptimalkan pengelolaan sedimentasi yang sudah sangat akut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!