Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung Dibidik Jadi Magnet Wisata 26 Aug 2026 Logistik Mengalir, Massa Bersiap Kepung Senayan 27 Agustus 26 Aug 2026 Hudson Serukan Keberanian, Thailand Bertekad Balikkan Keunggulan Vietnam 26 Aug 2026 Green GSM Luncurkan Taksi Listrik Premium 7 Penumpang di Filipina 26 Aug 2026 Pemkot Bandung Siapkan Rp56 Miliar untuk Bus Rapid Transit 26 Aug 2026 Pasar Baru dan Pecinan Lama Dibidik Jadi Destinasi Kuliner Dunia 26 Aug 2026 Cibaduyut Kini Punya Ruang Kreatif Bikin Sandal Sendiri 26 Aug 2026 Bandung Cerah, Suhu hingga 31 Derajat pada Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026 26 Aug 2026

Dolar AS Melemah di Tengah Gejolak Pasar Global

Desi Rossilawati
Selasa, 19 Mei 2026 | 09:19 WIB
Bagikan
Dolar AS Melemah di Tengah Gejolak Pasar Global

VISI.NEWS | BANDUNG - Nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) di tengah mulai meredanya aksi jual obligasi global serta meningkatnya kehati hatian investor terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan suku bunga dunia. Pelemahan ini terjadi setelah dolar sempat mencatat penguatan mingguan terbaiknya dalam lebih dari sembilan bulan.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya tercatat turun 0,3 persen ke level 99,19. Sebelumnya, dolar sempat menguat tajam karena pelaku pasar memperkirakan bank sentral global akan mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga akibat tekanan inflasi yang terus meningkat.

Salah satu pemicu utama perubahan sentimen pasar berasal dari gejolak di pasar obligasi global. Pekan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, Inggris, hingga Jepang melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dipengaruhi konflik Iran dan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.

Kondisi itu membuat investor mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Alih alih menurunkan suku bunga, pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka.

“Kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh Perang Iran meluas melampaui kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya. Hal ini terbukti pada Jumat lalu ketika suku bunga melonjak,” kata Kepala Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi dalam keterangannya dikutip, Selasa (19/5/2026).

Menurut Zandi, kenaikan imbal hasil obligasi AS mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang semakin sulit dikendalikan. Situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi Federal Reserve, terutama menjelang pergantian kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat.

“Dan dengan alasan yang kuat. Perang tersebut mendorong ekspektasi inflasi, dan tidak ada yang lebih menakutkan bagi Fed selain ekspektasi inflasi yang tidak terkendali,” katanya.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.