BMKG: Cuaca Bandung Hari Ini Didominasi Berawan, Suhu Berkisar 16-28 Derajat Celsius 12 Jul 2026 Akademi Persib Bandung Lolos Final Hydroplus Soccer League U18 11 Jul 2026 Ole Romeny Tinggalkan Oxford United Gabung Fortuna Sittard 11 Jul 2026 Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi 11 Jul 2026 Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di JIS 2027 11 Jul 2026 Profil Tan Kian Konglomerat Properti yang Disorot Kasus Asabri 11 Jul 2026 Arus Kendaraan Menuju Sukabumi Meningkat di Momen Akhir Libur Sekolah 11 Jul 2026 Polisi Periksa 15 Saksi Usai Geledah 12 Lokasi, Termasuk Tan Kian 11 Jul 2026 Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Kejagung 11 Jul 2026 Conor McGregor Kembali Hadapi Max Holloway di UFC 329 11 Jul 2026 BMKG: Cuaca Bandung Hari Ini Didominasi Berawan, Suhu Berkisar 16-28 Derajat Celsius 12 Jul 2026 Akademi Persib Bandung Lolos Final Hydroplus Soccer League U18 11 Jul 2026 Ole Romeny Tinggalkan Oxford United Gabung Fortuna Sittard 11 Jul 2026 Saat Presiden RI Pilih Tunda Proyek Strategis Demi Selamatkan Stabilitas Ekonomi 11 Jul 2026 Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di JIS 2027 11 Jul 2026 Profil Tan Kian Konglomerat Properti yang Disorot Kasus Asabri 11 Jul 2026 Arus Kendaraan Menuju Sukabumi Meningkat di Momen Akhir Libur Sekolah 11 Jul 2026 Polisi Periksa 15 Saksi Usai Geledah 12 Lokasi, Termasuk Tan Kian 11 Jul 2026 Profil Rudi Margono yang Ditunjuk Jadi Plt Jampidsus Kejagung 11 Jul 2026 Conor McGregor Kembali Hadapi Max Holloway di UFC 329 11 Jul 2026

Dolar AS Melemah di Tengah Gejolak Pasar Global

Desi Rossilawati
Selasa, 19 Mei 2026 | 09:19 WIB
Bagikan
Dolar AS Melemah di Tengah Gejolak Pasar Global

VISI.NEWS | BANDUNG - Nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) di tengah mulai meredanya aksi jual obligasi global serta meningkatnya kehati hatian investor terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan suku bunga dunia. Pelemahan ini terjadi setelah dolar sempat mencatat penguatan mingguan terbaiknya dalam lebih dari sembilan bulan.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lainnya tercatat turun 0,3 persen ke level 99,19. Sebelumnya, dolar sempat menguat tajam karena pelaku pasar memperkirakan bank sentral global akan mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga akibat tekanan inflasi yang terus meningkat.

Salah satu pemicu utama perubahan sentimen pasar berasal dari gejolak di pasar obligasi global. Pekan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, Inggris, hingga Jepang melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dipengaruhi konflik Iran dan gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.

Kondisi itu membuat investor mulai memperhitungkan kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve. Alih alih menurunkan suku bunga, pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka.

“Kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh Perang Iran meluas melampaui kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya. Hal ini terbukti pada Jumat lalu ketika suku bunga melonjak,” kata Kepala Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi dalam keterangannya dikutip, Selasa (19/5/2026).

Menurut Zandi, kenaikan imbal hasil obligasi AS mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang semakin sulit dikendalikan. Situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi Federal Reserve, terutama menjelang pergantian kepemimpinan bank sentral Amerika Serikat.

“Dan dengan alasan yang kuat. Perang tersebut mendorong ekspektasi inflasi, dan tidak ada yang lebih menakutkan bagi Fed selain ekspektasi inflasi yang tidak terkendali,” katanya.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara negara G7 di Prancis. Forum tersebut membahas dampak ekonomi global akibat konflik Timur Tengah serta volatilitas harga energi dan pasar keuangan internasional.

Sementara dolar melemah, euro menguat 0,3 persen menjadi USD1,1654 dan poundsterling naik 0,8 persen menjadi USD1,3434. Yen Jepang juga menjadi perhatian setelah muncul dugaan intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan mata uang mereka beberapa waktu lalu.

Situasi ini menunjukkan bahwa pasar global masih bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga dunia. Investor kini menunggu langkah Federal Reserve berikutnya di tengah ancaman inflasi yang kembali meningkat. @desi

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.