Diseret dan Dibakar: Kematian Tragis Buruh Garmen Bangladesh Picu Sorotan Dunia
Sejauh ini, 22 orang telah ditangkap, termasuk beberapa rekan kerja Dipu dan seorang imam masjid setempat. Polisi memperkirakan sekitar 150 orang terlibat langsung dalam penyerangan tersebut, sementara banyak lainnya hanya menyaksikan.
“Kami memperlakukan ini sebagai kejahatan kebencian,” tegas Al-Mamun.
Kematian Dipu memicu kemarahan internasional, terutama di India, negara tetangga yang memiliki kedekatan historis dan budaya dengan Bangladesh. Peristiwa ini kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan kelompok minoritas di negara berpenduduk 174 juta jiwa itu, di mana sekitar 9 persen warganya berasal dari komunitas agama minoritas, terutama Hindu.
Pemerintah sementara Bangladesh membantah adanya gelombang kekerasan sistematis terhadap minoritas. Mereka menyatakan sebagian besar insiden yang dilaporkan sepanjang 2025 merupakan tindak kriminal biasa yang kemudian dibingkai sebagai konflik agama. Namun kelompok hak asasi manusia menyampaikan angka berbeda, dengan mencatat puluhan kasus kekerasan terhadap warga Hindu, termasuk pembakaran rumah dan penyerangan tempat ibadah.
Perdebatan juga mencuat setelah mantan perdana menteri Sheikh Hasina digulingkan dalam gelombang protes mahasiswa pada 2024. Pemerintahan transisi yang dipimpin peraih Nobel Muhammad Yunus menyebut laporan tentang kekerasan anti-Hindu sebagai kabar yang dibesar-besarkan. Di sisi lain, sejumlah organisasi minoritas mengklaim serangan meningkat drastis sejak perubahan politik tersebut.
Di tengah polemik nasional, keluarga Dipu di Mymensingh hidup dalam duka mendalam. Rumah kecil mereka hanya berisi meja plastik, beberapa karung beras, tempat tidur sederhana, serta lemari es dan televisi yang dibeli Dipu secara mencicil. Barang-barang itu kini menjadi simbol mimpi yang terhenti.
Ayahnya, Rabi Das, seorang buruh angkut berusia 54 tahun yang sehari-hari bekerja memikul karung beras dan sayuran dengan upah 400–500 taka, mengaku tak lagi sanggup bekerja sejak kematian putra sulungnya.
“Hidup kami terhenti. Tidak ada yang bergerak lagi,” ujarnya lirih.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!