Dilema Marhaenis dalam dunia Pertanian
Rendahnya skill terdidik petani membuat petani lebih pragmatis dalam memandang dunia pertanian. Jika tidak menguntungkan maka di alihkan saja kebentuk yang lain.
Ironisnya, jumlah sarjana pertanian di Indonesia yang dicetak 34 ribu orang setiap tahunnya. Tapi Banyak Sarjana Pertanian tidak mau bertani akibat kebijakan Pemerintah tidak menguntungkan dunia pertanian itu sendiri.
Nah Kader GMNI yang sudah alumni kampus itu khususnya dari Sarjana Pertanian harus mampu menjawab persoalan dan dilema dunia pertanian Indonesia. Alumni GMNI harus mampu mengisi ruang-ruang kosong kebijakan pertanian yang tidak mendapatkan perhatian pemerintah atau menjadi tameng perjuangan untuk mewujudkan pertanian Indonesia yang berdaulat.
Advokasi Kebijakan dan Ekonomi dalam dunia pertanian sangat diperlukan sekali. Misalnya bagaimana petani dapat berdaulat terhadap bibit dan pasar sedangkan kebijakan secara politiknya sangat di perlukan dalam hal ekspor impor produk pertanian.
Inovasi dan Pembangunan Mental
Rendahnya skill terdidik dalam dunia pertanian Indonesia membuat pertanian Indonesia tidak menarik. Pengunaan teknologi dalam pertanian cenderung berbiaya mahal dan tidak efisien secara biaya.
Tidak menariknya dunia pertanian bagi sarjana pertanian mengakibatkan transfer pengetahuan dan teknologi dalam bidang pertanian itu sendiri bermasalah dan tak berkembang.
Upaya-upaya GMNI khususnya alumni GMNI harus mampu menghadirkan Sarjana atau kaum intelektual dalam bidang pertanian itu sendiri. Alumni GMNI kedepan nya harus mampu mendistribusikan kader-kadernya untuk hidup dan berusaha bersama petani.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!