Dilema Marhaenis dalam dunia Pertanian
Seringkali ketika petani mendapatkan lahan untuk bertani, petani kebingungan untuk berproduksi. Akhirnya lahan pertanian pun berpindah tangan dan berubah fungsi.
Berdasarkan data BPS dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa lahan pertanian terus menurun. Contoh saja pada tahun 2017 lahan pertanian kita 7,71 juta ha dan pada tahun 2018 tinggal 7,10 juta ha. Dalam setahun saja berkurang kurang lebih setengah juta hektar. Sedangkan Menurut Menteri Pertanian Yasin Limpo lahan pertanian selalu berkurang sekitar 60.000 hektar setiap tahunnya.
Pertanyaannya kenapa lahan pertanian selalu berkurang setiap tahunnya sedangkan aktivis yang melakukan pembebasan lahan untuk petani juga banyak yang berhasil ???
Titik persoalannya adalah kegiatan usaha pertanian tidak menguntungkan petani. HPP dan BEP dalam dunia pertanian tidak sebanding dengan hasil yang di lakukan. Harga bibit dan pupuk serta biaya pengelolaan pertanian tidak sebanding dengan hasil yang di hasilkan.
Efek dari persoalan hasil pasca panen yang tidak menguntungkan petani berimbas kepada semakin berkurangnya jumlah petani di Indonesia.
Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi, 42 tahun mendatang Indonesia tak lagi mempunyai petani bila tren tersebut terus berlanjut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah petani per 2019 mencapai 33,4 juta orang. Adapun dari jumlah tersebut, petani muda di Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya 8 persen atau setara dengan 2,7 juta orang.
Orang-orang muda di Indonesia tidak lagi melihat bahwa dunia pertanian bukanlah sektor yang menarik dalam mencapai kesejahteraan. Apalagi jika dilihat menurut tingkat pendidikan, ternyata dari seluruh tenaga kerja di sektor pertanian tersebut sebanyak 81,32% nya berpendidikan setara SD ke bawah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!