Dialektika Tradisi dan Inovasi dalam Tari Kontemporer Pencak Silat di BACODACO 2025

ED
Rabu, 29 Oktober 2025 | 08:35 WIB
Bagikan
Dialektika Tradisi dan Inovasi dalam Tari Kontemporer Pencak Silat di BACODACO 2025

VISI.NEWS | BANDUNG - Program Studi Seni Tari, Jurusan Tari, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung kembali mempertegas perannya sebagai pusat pengembangan seni pertunjukan melalui penyelenggaraan Bandung Contemporary Dance Competition (BACODACO) 2025. Kompetisi tahunan ini bertemakan “Tradition Moves: Tubuh, Silat, dan Eksplorasi Kekinian” dan digelar di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung. BACODACO menjadi ajang aktualisasi ide dan pengembangan potensi seniman tari dari berbagai perguruan tinggi seni dan non-seni serta komunitas tari di seluruh Indonesia.

Tahun ini, kompetisi fokus pada tari kontemporer yang berbasis Pencak Silat. Tema tersebut menjadi strategi konseptual untuk menjembatani tradisi lokal dengan semangat eksperimen seni kontemporer. Dengan pendekatan ini, BACODACO tidak hanya sekadar ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk eksplorasi artistik, yang mendorong koreografer untuk menafsirkan kembali gerak, filosofi, dan narasi Pencak Silat dalam konteks koreografi kontemporer. Dalam perspektif ini, tradisi tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang statis, melainkan sebagai sumber daya yang dinamis dan terbuka untuk reinterpretasi.

Menurut Dr. Alfiyanto, S.Sn., M.Sn., salah satu maestro tari kontemporer Jawa Barat, kompetisi ini memainkan peran penting dalam mendorong proses kreatif yang reflektif. “Penyelenggaraan BACODACO memberi kesempatan kepada para peserta untuk membaca ulang Pencak Silat dengan pemahaman yang lebih mendalam, bukan sekadar bentuk formalistiknya. Melalui transformasi ini, diharapkan tercipta karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga kaya makna,” ujarnya. Proses ini mendorong penafsiran ulang terhadap gerak, tubuh, ruang, narasi, dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi silat.

Kompetisi ini mengangkat isu sebagai fondasi utama dalam memperkuat ide dan karakter karya. Isu yang diangkat tidak harus selalu bersifat sosial atau politik, tetapi juga bisa berasal dari refleksi internal seni tari itu sendiri. Isu bisa bersifat personal, lokal, atau global, yang memiliki relevansi terhadap konteks zamannya. Karya tari yang dihasilkan diharapkan bukan hanya menonjolkan narasi atau keindahan visual, tetapi juga dapat berinteraksi dengan realitas sosial dan budaya. Melalui tubuh sebagai medium ekspresi, karya tari menjadi sarana komunikasi yang mendalam antara pencipta, penari, dan penonton.

Salah satu indikator penilaian yang penting adalah nilai kebaruan. Kebaruan dalam karya tari tidak selalu berarti penciptaan bentuk yang sepenuhnya baru, tetapi bisa muncul dari kemampuan koreografer dalam mengolah elemen-elemen lama menjadi sesuatu yang segar dan relevan dengan kondisi kekinian. Inovasi ini meliputi pengelolaan relasi tubuh, ruang, waktu, dan isu-isu yang diangkat, serta penggunaan media dan struktur dramatik yang dapat memperkaya pengalaman estetis dan intelektual. Inovasi yang demikian juga mencerminkan keberanian kreatif dalam merespons dinamika sosial dan budaya yang berkembang.

Dengan demikian, BACODACO 2025 tidak hanya sekadar ajang unjuk keterampilan teknis semata, tetapi juga merupakan ruang dialektika antara tradisi dan inovasi, tubuh dan konteks, serta ekspresi dan refleksi. Melalui platform ini, diharapkan karya-karya tari yang lahir dapat menggugah kesadaran estetika, sosial, dan intelektual, sekaligus memperluas cakrawala pemaknaan seni tari kontemporer di Indonesia.

Kompetisi ini juga menjadi sarana penting dalam mempertemukan berbagai komunitas tari dan perguruan tinggi seni di Indonesia, yang saling bertukar pengalaman, ide, dan pendekatan dalam mengembangkan seni tari kontemporer. Karya yang dihasilkan diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah seni tari di tanah air, tetapi juga dapat menginspirasi perkembangan seni pertunjukan di kancah internasional.

Salah satu karya yang mencuri perhatian dalam BACODACO 2025 adalah karya tari “UING” dari komunitas Wajiwa. Karya ini menunjukkan bagaimana tari kontemporer dapat berfusi dengan elemen-elemen tradisi lokal, seperti Pencak Silat, dan mengolahnya dalam perspektif yang lebih modern dan relevan. Keberhasilan karya ini membuktikan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan, memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan seni tari di Indonesia.

Melalui ajang ini, ISBI Bandung dan para peserta berharap dapat semakin memperkuat posisi seni tari kontemporer berbasis budaya lokal sebagai identitas seni Indonesia yang semakin dihargai dan diakui di dunia internasional. Dengan terus menjaga hubungan antara tradisi dan inovasi, BACODACO 2025 berusaha menciptakan ruang baru bagi eksplorasi artistik yang membawa dampak positif bagi perkembangan seni pertunjukan di Indonesia.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.