Deteksi Dini Thalasemia Diperkuat, Bandung Dorong Skrining Genetik Keluarga
Dukungan serupa disampaikan Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan. Ia mengapresiasi RSHS, RSAB Harapan Kita, Kementerian Kesehatan, para tenaga kesehatan, serta peneliti yang menggagas kegiatan tersebut. Menurutnya, thalasemia masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.
Erwan mengungkapkan, berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, prevalensi pembawa sifat atau carrier thalasemia di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 3 hingga 10 persen dari total populasi. Dari jumlah penyandang thalasemia di Indonesia, sekitar 40 persen berada di wilayah Jawa Barat.
Melihat besarnya angka tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen memperkuat edukasi, deteksi dini, serta pendampingan kepada masyarakat agar jumlah kasus thalasemia dapat terus ditekan. Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas hidup para penyandang melalui pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif.
Direktur Utama RSHS Bandung, dr. H. Rachim Dinata Marsidi, mengatakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut merupakan bentuk nyata komitmen RSHS dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Menurutnya, kerja sama dengan RSAB Harapan Kita tidak hanya memperkuat pelayanan medis, tetapi juga mendukung penelitian dan edukasi kepada keluarga penyandang thalasemia mengenai pentingnya deteksi dini melalui skrining genetik.
Sementara itu, Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, menyebut RSHS sebagai salah satu rumah sakit regional terbaik di Indonesia yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pelayanan kesehatan nasional. Ia menilai keberhasilan berbagai program kesehatan nasional tidak dapat dilepaskan dari peran rumah sakit regional yang menjadi ujung tombak pelayanan kepada masyarakat.
Reni mengatakan fokus utama kegiatan tahun ini adalah mengajak keluarga penyandang thalasemia mengikuti skrining genetik untuk mengetahui status sebagai pembawa sifat sejak dini. Dengan mengetahui status tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat dalam perencanaan keluarga sehingga risiko kelahiran anak dengan thalasemia dapat diminimalkan pada generasi berikutnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!