Hadir pula dalam konferensi tersebut Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) Mugiyanto dan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk serta Forkompimda Papua.
Dedi Mulyadi Minta Pembangunan Papua Tak Mengorbankan Alam dan Budaya
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi./visi.news/Pemprov Jabar.
VISI.NEWS | BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa pembangunan Papua tidak boleh mengulangi pola yang menurutnya telah menyebabkan kerusakan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia. Dalam Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) yang digelar di Jayapura, Papua, Jumat (29/5/2026).
Ia menekankan pentingnya menempatkan kelestarian alam dan budaya sebagai fondasi utama pembangunan di Tanah Papua.
Menurut Dedi, pendekatan pembangunan yang terlalu berorientasi pada aspek teknis dan ekonomi sering kali mengabaikan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat adat. Padahal, komunitas adat selama ratusan tahun telah menunjukkan kemampuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
"Kita sering menganggap kaum adat sebagai orang yang tertinggal, padahal mereka adalah sumber pengetahuan. Leluhur kita mampu menjaga alam selama berabad-abad dan mewariskannya kepada generasi berikutnya dengan baik," kata Dedi Mulyadi dalam keterangannya dikutip, Selasa (2/6/2026).
Dalam konteks pembangunan nasional, pandangan tersebut mencerminkan perdebatan yang semakin mengemuka mengenai hubungan antara investasi, eksploitasi sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan. Papua menjadi wilayah yang mendapat perhatian khusus karena masih memiliki kekayaan alam dan budaya yang relatif terjaga dibandingkan banyak daerah lain.
"Saya melihat masih ada yang original di negeri ini namanya Papua. Di tempat kami sudah hampir tidak bisa mendapatkannya lagi. Di sini kami mendapat kejernihan air, kejernihan udara, dan alam yang sangat indah," ujarnya.
Dedi menilai kerusakan ekologi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu identitas dan sistem kehidupan masyarakat adat. Karena itu, ia mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak mempertimbangkan aspek budaya berpotensi membuat masyarakat lokal kehilangan keterhubungan dengan tanah dan warisan leluhur mereka.
"Papua kehilangan alamnya maka rakyatnya akan lemah. Sistem keyakinan pada leluhurnya terputus oleh kehancuran ekologi," katanya.
Selain menyoroti isu lingkungan, Dedi juga mendorong agar pembangunan fisik di Papua tetap menampilkan identitas lokal. Ia mengusulkan bangunan publik, sekolah, hotel, hingga stadion mengadopsi arsitektur khas Papua sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya setempat.
"Papua dibangun untuk orang Papua. Jangan sampai suatu saat orang Papua merasa bukan lagi tinggal di kampungnya sendiri," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dedi mengumumkan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memberikan beasiswa kepada 40 mahasiswa Papua yang akan menempuh pendidikan di Jawa Barat. Program tersebut mencakup biaya pendidikan dan biaya hidup hingga mereka menyelesaikan studi.
"Silakan kuliah di Bandung. Biaya hidupnya kami tanggung sampai dia selesai," pungkasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!