Dari Santri Jombang ke Presiden RI: Kisah Gus Dur yang Kini Resmi Jadi Pahlawan Nasional
Sejak kecil, Gus Dur dikenal gemar membaca. Ia menghabiskan banyak waktu di perpustakaan pribadi ayahnya maupun perpustakaan umum di Jakarta. Memasuki usia remaja, ia sudah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel, dan buku-buku sastra.
Selain membaca, ia juga menyukai sepak bola, catur, dan musik, bahkan sempat diminta menjadi komentator sepak bola di televisi.
Masa remaja Gus Dur dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo, Magelang, yang menjadi periode penting perkembangan intelektualnya.
Setelah menempuh pendidikan di Pesantren Tambak Beras, Jombang, Gus Dur melanjutkan studi ke Timur Tengah. Ia tercatat belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, pada 1964–1966, kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Baghdad, Irak, hingga 1970. Ia juga sempat melanjutkan studi di Universitas Leiden, Belanda.
Sekembalinya ke Indonesia, Gus Dur memilih berkarier sebagai pendidik. Pada 1971 ia mengajar di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng, Jombang.
Tiga tahun kemudian, pamannya KH Yusuf Hasyim meminta Gus Dur menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng. Pada periode ini pula ia mulai aktif menulis dan terlibat dalam berbagai kegiatan LSM, termasuk di LP3ES dan pendirian P3M yang fokus pada pengembangan pesantren dan masyarakat.
Pada 1979, Gus Dur hijrah ke Jakarta dan merintis Pesantren Ciganjur. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi wakil katib syuriah PBNU.
Di organisasi ini, Gus Dur banyak terlibat dalam diskusi lintas agama, suku, dan disiplin ilmu, sambil terus memperkuat kiprahnya di dunia pemikiran, kebudayaan, dan politik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!