DARI PONPES KE PONPES | Tokoh Besar Pendiri Ponpes Leuwimunding dan Cisambeng di Majalengka
- Selama bulan Ramadan 1444 H ini, InsyaAllah akan hadir tulisan-tulisan dari Bambang Melga Suprayogi, M.Sn., yang mengunjungi beberapa pondok pesantren di Jawa Barat. Tulisan mengupas profil pesantren dan kiai sepuhnya, proses pendidikan dan amaliah yang biasa ia jalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
KAMIS (23/03/2023) siang, penulis mendapat informasi dari Kang Didin pengurus LTN NU Jabar, bahwa di daerah Majalengka ada dua tokoh besar pergerakan Nahdlatul Ulama (NU), yang telah berkiprah mewarnai daerahnya, dan bahkan menjadi sosok yang keberadaannya mampu memberi harum wilayah Kabupaten Majalengka.
Baca juga DARI PONPES KE PONPES | Profil Pondok Pesantren Al Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon RAMADAN UPDATE DARI PONPES KE PONPES | Bertemu Kiai Musthofa Aqil Pimpinan Pesantren Ciwedus Kuningan RAMADAN UPDATE DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Buntet Cirebon Punya Kiai Abbas yang Fenomenal DARI PONPES KE PONPES | Mengenal Mang Haji Abah dan Pesantren Hidayatul Hikmah Kutawaringin Soreang DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Kabupaten Bandung Bertariqoh “Sayuriyah” DARI PONPES KE PONPES | Mama Kiai Muhammad Faqih Sang Pendiri Pesantren Baitul Arqom Lembur AwiSosok-sosok ini, katanya, merupakan manusia yang telah menghidupkan daerahnya, memberi ciri akan keberadaan dirinya, hingga kita semua dapat menyaksikan hasil dari apa yang beliau-beliau tinggalkan untuk umat, yang seakan bicara pada kita orang yang hidup di masa sekarang, "Ini hasil pekerjaanku, ayo mana kiprahmu untuk bisa kau tinggalkan, agar dunia mencatat kiprah kita!"
Subhanallah !
Luar biasa ternyata daerah Majalengka. Di sana telah hadir tokoh-tokoh utama dalam menyeru umat, sehingga nafas keislaman, sangat kuat mewarnai perjalanan umat Islam di sana, karena dari keberadaan dua orang tokoh ini, yang paling menonjol, dan banyak ulama lainnya yang tak terdeteksi, akhirnya, melahirkan para ulama-ulama masa kini, yang semakin menguatkan ciri khas pergerakan dari umat Islam, yang keberadaannya menjadi rahmat bagi Islam di Majalengka sekarang.
Dua tokoh ulama Majalengka yang penulis selusuri jejak kiprahnya, K.H. Abdul Chalim di Leuwimunding, sebagai seorang tokoh NU awal, seorang pembaru pergerakan reformis Islam, yang kiprahnya merentang di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan, yang melahirkan kiprah di dunia pendidikan yang beliau wariskan kepada generasi berikutnya, yang keberadaannya masih kita bisa lihat sampai sekarang.
Jejaknya sang kiai dengan meninggalkan keberadaan MDTA-MTs Shabilul Chalim, dan Madrasah Aliyah Unggulan Amanatul Ummah 02 yang berdiri berikutnya. Namun sayang, saat penulis ingin bertemu dengan Kepala Sekolah Amanatul Ummah untuk berbincang seputar perjuangan dan kiprah K.H. Abdul Chalim, beliaunya tak bisa penulis temui, karena sedang tak ada di tempat, hingga akhirnya penulis melanjutkan perjalanan ke tokoh agama selanjutnya di wilayah Palasah Majalengka, tepatnya di daerah Cisambeng, untuk menggali informasi yang bisa penulis buat.
Cisambeng Majalengka
Majalengka, sebuah kota kecil, kota transit, tempat lalu lalang nya kendaraan yang bepergian antar daerah, baik yang akan menuju Bandung, maupun sebaliknya yang akan menuju Cirebon.
Nun di daerah Cisambeng ini, penulis menemukan hasil karya dari seorang alim ulama pinunjul, yakni, K.H. Mama Muhammad Qusyaeri, seorang penggerak Islam, yang leluhurnya merupakan pejuang-pejuang syiar Islam dan dakwah, penyeru agama di daerah setempat, dan dari sana banyak melahirkan ulama-ulama yang tersebar di wilayah tak hanya Majalengka saja, tapi di daerah lainnya di wilayah III Cirebon, yang meliputi Cirebon kota dan kabupatennya, Majalengka, Kuningan, dan Indramayu, termasuk dari keturunnya Kiai Tasih, yang melahirkan Mama K.H. Muhammad Qusyaeri ini.
Alhamdulillah sekali penulis mendapatkan seorang narasumber langsung dari penulis buku Mama K..H. Muhammad Qusyaeri, yaitu Ustadz Royan Fahrurozi S.Pd, yang ketika penulis berkunjung ke sana, ia dengan sangat baik memberi banyak informasi, yang sangat membantu isi tulisan ini.
Para leluhur Mama KH. M Qusyaeri ini adalah, Kiai Tasih (Mama Buyut Tasih), mama Kiai Dawud, Mama Kiai Murta, Mama Kiai Toyib dan sang ayahandanya sendiri, yakni Mama Kiai Soleh atau yang akrab di sapa Mama Kiai Ayeh.
Jadi Mantu K.H. Amin Sepuh Babakan Ciwaringin
Bicara mengenai Mama KH. Muhammad Qusyaeri, yang diambil mantu oleh tokoh agama terkenal dari pesantren tertua di Babakan Ciwaringin, K.H. Amin Sepuh, yang melahirkan banyak ulama dan pesantren-pesantren di Babakan Ciwaringin.
Tentunya, Mama KH. Muhammad Qusyaeri muda saat nyantrinya dulu, beliaunya merupakan sosok menonjol, sosok terpilih, baik dalam kecakapan ilmu, ahlak, kepribadian, dan keawasan hatinya, sehingga Mama K.H. Amin Sepuh sampai tertarik, dan menikahkan anaknya, dengan K.H. Muhammad Qusyaeri. Adapun putri K.H.Amin Sepuh ini bernama, Mimi HJ. Fiqriah Amin, yang akhirnya jadi pendamping hidup KH. Muhammad Qusyaeri.
Setelah menikah, Mimi HJ. Fiqriah ini di ajak untuk ke Desa Cisambeng Palasah, tempat di mana leluhur K.H. Muhammad Qusyaeri ini telah sejak lama berjuang menegakan syiar dakwahnya di sana, dan para leluhurnya pun memiliki andil yang besar dalam mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah Belanda, lebih dari satu abad lalu yaitu dari tahun 1882 hingga 1919, dan terus masih ikut berjuang sampai jaman kemerdekaan.
K.H. Muhammad Qusyaeri ini mulai melaksanakan syiar dakwahnya dari sana, hingga ia pun mulai mendirikan pola kepesantrenan, melanjutkan perjuangan para leluhurnya, yang merupakan kiai-kiai pejuang.
Menempati lahan kurang lebih 1.000 m, setelahnya mendapat izin dari K.H. Amin sepuh, pada tahun 1960, ia mendirikan Pesantren Raudlatul Mubtadi’in, di Cisambeng Palasah Majalengka. Keberadaan Pesantren ini, untuk membantu melakukan syiar dakwah di daerah Palasah, dan sekitarnya.
Jejak Nyantri
Rekam jejak nyantri Mama K.H. Muhammad Qusyaeri, dimulai saat ia mondok pertama di pondok pesantren Mama Kiai Dulloh dari Koja, yang merupakan salah satu sahabatnya dari ayahnya, Mama Kiai Soleh.
Di sana ia menimba ilmu beberapa tahun, kemudian dilanjutkan ke pondok pesantren yang ada di Leuwiliang, yang kiainya merupakan salah satu sahabat ayahnya juga. Lalu diteruskan lagi ke Pondok Pesantren As-Salafiyah Dawuan yang diasuh oleh Mama Kyai Dimyati.
Setelah selesai menimba ilmu dari Mama Kiai Dimyati, Mama Kiai Qusyaeri masih tetap melanjukan untuk mondok di Pondok Pesantren Trajaya yang saat itu diasuh oleh Mama Kiai Fatah seorang ulama sangat tersohor pada jamannya.
Sampai akhirnya ia, Mama KH. Muhammad Qusyaeri melanjutkan mondok ke salah satu pondok pesantren yang ada di Cirebon yakni Balerante dan Babakan Ciwaringin. Di Babakan Ciwaringin di Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin yang diasuh oleh Al Mafhrurllah Syikhona Mama K.H. Amin Sepuh yang menjadi salah satu pondok pesantren tertua yang ada di Cirebon.
Kebiasaan Mama KH Muhammad Qusyaeri
Kebiasaan Mama Kiai Muhammad yang selalu istiqomah dalam melakukan kegiatan silaturahmi memang sangat rutin sekali dilaksanakan, sehingga Mama Kiai Muhammad selalu lebih dulu untuk mendatangi rumah-rumah alumni, kerabat dan masyarakat.
Dalam melakukan silaturahmi ini, Mama Kiai Muhammad selalu didampingi oleh salah satu santrinya atau khodim hanya dengan menggunakan kendaraan umum atau terkadang juga hanya berjalan kaki. Baru setelah sampai di perempatan Jatiwangi, Mama Kiai Muhammad biasanya langsung saja memanggil becak yang sudah menjadi langganan sebagai kendaraan kiai untuk berkeliling siulaturahmi. Biasanya Mama Kiai Muhammad berkeliling sampai ke daerah Kertajati, Jatitujuh, Bantrangsana dan daerah-daerah lainnya. Bahkan ada sebuah kebiasaan, yang mana kebiasaan yang selalu kiai lakukan, sering bersedekah ketika berangkat dan berjalan menuju Masjid Desa Cisambeng untuk melaksanakan jum’atan, Mama Kiai Muhammad selalu membawa uang recehan untuk dibagikan kepada anak- anak kecil yang sudah berkerumun di pinggir jalan sampai bale desa
K.H. Muhammad Qusyaeri memiliki dua orang anak, perempuan semua, suling Hj. Minatulmaula, dan yang kedua Hj. Samratul Aini. Kedua putrinya ini, Hj Minatulmaula menikah dengan K.H. Ahmad Fauzi, dan Hj. Samratul Aini menikah dengan K.H. Edi Suaedi
Sepeninggal Mama K.H. Muhammad tahun 2002, kepemimpinan pondok itu di lanjut oleh K.H. Ahmad Fauzi, kemudian tahun 2014 KH Ahmad Fauzi meninggal, dan meninggalkan 4 orang anak, K.H. Abdulah Amin anak yang pertama, kedua, Dr. H Agus Rofi'i, M.Pd., yang ketiga perempuan Liha Malihatul Ulfah, dan yang terakhir bungsu, Ustad Ibnu Hajar.
Sekarang, pengasuh pondok pesantren Raudlatul Mubtadi'in di pegang dan di lanjutkan oleh KH. Abdulah Amin, S.Kom.. Artinya, Raudlatul Mubtadi'in dipegang oleh generasi ke tiga.
Amaliah
Dari KH. Muhammad Qusyaeri, meninggalkan ajaran, dan amalan yang di wasiatkan kepada para santrinya, diantaranya, untuk mencegah (menhindarkan) dari bahaya dunia dan akhirat, untuk menghindari kebingungan dan belenggu dan kesedihan serta untuk mendatangkan (menarik) rizki mau’ud (rizki yang telah yang telah dijanjikan Allah SWT bagi hamba-hamba saleh) min haitsu layahtasib (rizki yang tidak disangka-sangka) dengan cara :
- Istiqomah (Bersikap teguh pendirian/konsisten).
- Mudawwamah (Melakukan terus menerus/kontinyu)
- Muhafadzoh (Menjaga, merawat, memperbaiki dari waktu ke waktu)
Diantara beberapa hal dibawah ini yang sering KH. Muhammad Qusyaeri lakukan diantaranya :
- Bersyukur dengan memuji kepada Allah SWT atas segala nikmatnya yang telah di berikan (alhamdulillah).
- Seumur hidup memiliki wudhu (Selalu dalam keadaan suci baik pada waktu siang atau malam, kapanpun dan dimanapun).
- Salat Fardhu (lima waktu) selalu berjamaah.
- Memperbanyak membaca istighfar (Mohon ampun dan membaca salawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW).
- Belajar dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat.
- Sedekah setiap hari walaupun sebesar biji kurma.
- Memuliakan dan menghormati tamu.
- Selalu mengerjakan salat sunnah qobliyah, ba’diyah setelah salat fardhu, salat duha dan salat tahajud.
- Mengkhususkan berkunjung atau bersilaturahmi kepada orang lain baik yang masih hidup atau sudah mati (ziarah).
- Selalu membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 3x ketika memasuki rumah.
Dari beberapa amalan diatas merupakan amalan Mama Kiai Muhammad Qusyaeri yang banyak beliaunya amalkan dalam melaksanakan kehidupannya sehari-hari.
Jejak perjalanan Mama KH Muhammad Qusyaeri telah dibukukan dan bisa dipesan ke Kang Royan, No. WA. 085223601270
Semoga kita semua baik santri, alumni dan seluruh masyarakat bisa mengikuti jejak beliau dan bisa mengamalkan amalan beliau dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga terasa keberkahannya, manfaatnya, dan mampu menghidupkan semangat kita dalam menggali ilmu, seperti halnya teladan dari Mama K.H. Muhammad Qusyaeri ini. Aamiin.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!