Citra Satelit Ungkap Tanda Gletser Nepal Sebelum Longsor
Ilustrasi gletser Himalaya./visi.news/reuters.
Dalam kasus Nepal, banjir bandang menerjang kawasan perbatasan dan menghancurkan jalan, jembatan, permukiman, serta sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.
Ratusan pekerja konstruksi juga sempat terjebak di berbagai proyek pembangkit listrik di sepanjang sungai.
Ilmuwan menilai kondisi di Himalaya semakin kompleks akibat pemanasan yang membuat gletser menyusut dan permafrost mencair.
Permafrost merupakan tanah atau batuan yang selama bertahun-tahun tetap membeku. Es yang berada di dalamnya berfungsi seperti perekat yang membantu menjaga kestabilan lereng.
Ketika es tersebut mencair, batuan dan material di lereng dapat menjadi lebih mudah bergerak. Akibatnya, gletser yang mencair, lereng tidak stabil, longsoran batu-es, dan danau glasial dapat saling memicu dalam sebuah rangkaian bencana.
Karena itu, tantangan ilmuwan bukan hanya memprediksi kapan sebuah gletser akan runtuh. Mereka juga harus memahami apa yang terjadi setelah keruntuhan, termasuk seberapa cepat air dan material bergerak menuju kawasan yang dihuni manusia.
Steiner menilai bencana sebelumnya seharusnya menjadi peringatan bahwa kawasan tersebut membutuhkan persiapan yang lebih baik.
Menurutnya, kejadian serupa di lokasi yang sama telah terjadi sebelumnya, termasuk longsoran batu-es pada 2024 dan peristiwa terkait longsoran es pada 2015.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!