Citra Satelit Ungkap Tanda Gletser Nepal Sebelum Longsor
Ilustrasi gletser Himalaya./visi.news/reuters.
VISI.NEWS - Bencana besar di perbatasan Nepal-Tibet ternyata didahului sejumlah tanda yang dapat terdeteksi melalui citra satelit. Analisis menunjukkan adanya perubahan pada gletser beberapa hari sebelum bagian es dan batuan runtuh, memicu banjir bandang dahsyat yang menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang.
Temuan tersebut berasal dari penilaian cepat HiRISK, kelompok ilmuwan internasional yang menganalisis bencana di kawasan tersebut. Para ilmuwan menemukan sejumlah indikasi sebelum kejadian atau pre-event indications pada citra satelit sebelum longsoran terjadi.
Salah satu indikasi tersebut berupa perubahan pada permukaan gletser. Pengamatan satelit juga menunjukkan pergerakan air di dalam gletser semakin cepat sebelum keruntuhan.
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perubahan di dalam struktur es sekaligus ketidakstabilan batuan di sekitar gletser.
Citra satelit pada 24 Agustus juga memperlihatkan air lelehan di kawasan tersebut berubah menjadi kecokelatan. Selain itu, para ilmuwan menemukan retakan yang merambat ke lereng batuan di sekitar gletser beberapa hari sebelum longsoran.
Temuan itu menunjukkan bahwa gletser yang terlihat diam dari kejauhan sebenarnya telah mengalami perubahan yang dapat dideteksi dari luar angkasa.
Namun, pemantauan kawasan Himalaya memiliki tantangan besar. Wilayah tersebut sangat luas dengan medan ekstrem dan ribuan gletser yang tersebar di kawasan pegunungan yang sulit dijangkau manusia.
Pemasangan alat pemantau di setiap lokasi pun nyaris mustahil dilakukan. Dalam kondisi tersebut, teknologi satelit dapat memainkan peran penting.
Citra satelit memungkinkan ilmuwan memantau perubahan permukaan gletser, retakan, aliran air lelehan, hingga perubahan lanskap tanpa harus berada langsung di lokasi.
Geolog sekaligus salah satu penulis laporan HiRISK, Jakob Steiner, mengatakan pemantauan berbasis satelit dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI dapat membantu menemukan risiko di wilayah pegunungan yang sangat luas.
"Di sinilah saya pikir kita perlu berinvestasi lebih banyak. Ada ribuan dan ribuan gletser di High Mountain Asia, jadi kita harus menemukan solusi yang dapat diterapkan dalam skala besar," kata Steiner seperti dikutip dari ABC, Kamis (3/9/2026).
Menurut Steiner, teknologi tersebut penting karena sistem pemantauan konvensional memiliki keterbatasan besar di wilayah pegunungan terpencil. Laporan HiRISK juga menemukan bahwa sistem peringatan dini khusus bahaya gletser belum tersedia di wilayah yang terdampak.
Untuk kawasan yang sangat dekat dengan sumber longsoran, waktu peringatan yang tersedia kemungkinan hanya beberapa menit. Sementara itu, semakin jauh dari sumber bencana, waktu peringatan dapat mencapai 10 menit atau lebih.
Dalam kondisi tersebut, sistem peringatan yang dirancang dengan baik masih berpotensi menyelamatkan banyak orang.
Perubahan Iklim Perumit Risiko Bencana
Bencana di Nepal menunjukkan pentingnya memperhatikan perubahan kecil pada gletser. Keruntuhan es dan batuan di wilayah pegunungan dapat mengirim material dalam jumlah besar ke lembah.
Material tersebut kemudian dapat membendung aliran sungai untuk sementara sebelum melepaskan air dalam jumlah besar secara tiba-tiba.
Dalam kasus Nepal, banjir bandang menerjang kawasan perbatasan dan menghancurkan jalan, jembatan, permukiman, serta sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.
Ratusan pekerja konstruksi juga sempat terjebak di berbagai proyek pembangkit listrik di sepanjang sungai.
Ilmuwan menilai kondisi di Himalaya semakin kompleks akibat pemanasan yang membuat gletser menyusut dan permafrost mencair.
Permafrost merupakan tanah atau batuan yang selama bertahun-tahun tetap membeku. Es yang berada di dalamnya berfungsi seperti perekat yang membantu menjaga kestabilan lereng.
Ketika es tersebut mencair, batuan dan material di lereng dapat menjadi lebih mudah bergerak. Akibatnya, gletser yang mencair, lereng tidak stabil, longsoran batu-es, dan danau glasial dapat saling memicu dalam sebuah rangkaian bencana.
Karena itu, tantangan ilmuwan bukan hanya memprediksi kapan sebuah gletser akan runtuh. Mereka juga harus memahami apa yang terjadi setelah keruntuhan, termasuk seberapa cepat air dan material bergerak menuju kawasan yang dihuni manusia.
Steiner menilai bencana sebelumnya seharusnya menjadi peringatan bahwa kawasan tersebut membutuhkan persiapan yang lebih baik.
Menurutnya, kejadian serupa di lokasi yang sama telah terjadi sebelumnya, termasuk longsoran batu-es pada 2024 dan peristiwa terkait longsoran es pada 2015.
Satelit dan AI Jadi Sistem Peringatan
Bencana Nepal menunjukkan bahwa keruntuhan gletser belum selalu dapat diprediksi dengan tepat. Teknologi saat ini belum mampu memberikan kepastian mengenai kapan sebuah gletser akan runtuh.
Namun, citra satelit menunjukkan bahwa alam terkadang memberikan tanda sebelum bencana terjadi.
Tantangan selanjutnya adalah mengubah tanda-tanda tersebut menjadi peringatan yang cukup cepat untuk menyelamatkan manusia, terutama di wilayah seperti Himalaya yang memiliki ribuan gletser dan sulit dijangkau untuk pemantauan langsung.
Jika pemantauan satelit dan AI mampu menemukan perubahan kecil beberapa hari sebelum sebuah gletser runtuh, teknologi tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk melihat bencana setelah terjadi.
Kombinasi satelit dan AI berpotensi menjadi sistem pemantauan dari luar angkasa yang memberikan waktu bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri sebelum bencana terjadi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!