Canva Gandeng Capitec, Buka Akses Langganan di Afrika Selatan
Keterangan foto: Potensi pasar e-commerce Afrika Selatan diproyeksikan mencapai 23 miliar dolar AS, meski sebagian besar konsumennya masih belum memiliki kartu kredit. /visi.news/ist
Canva Africa Lead Bianca Sibiya mengatakan, peluncuran layanan tersebut menjadi upaya untuk menghilangkan hambatan struktural yang selama ini membatasi akses masyarakat Afrika Selatan terhadap platform Canva.
"Untuk Canva, going live sebagai merchant global pertama di infrastruktur ini merupakan penghapusan hambatan struktural yang sebelumnya mencegah sebagian besar masyarakat Afrika Selatan mengakses platform kami sama sekali," kata Bianca Sibiya.
Capitec merupakan bank personal terbesar di Afrika Selatan berdasarkan jumlah nasabah. Bank tersebut memiliki sekitar 26 juta nasabah dan lebih dari 16 juta pengguna aplikasi.
Menurut Capitec, sekitar satu dari tiga orang dewasa di Afrika Selatan menggunakan aplikasi mobile banking milik perusahaan tersebut. Besarnya basis pengguna aplikasi menjadi salah satu faktor yang membuat Capitec Pay memiliki potensi sebagai metode pembayaran alternatif bagi layanan digital internasional.
Melalui Capitec Pay, konsumen dapat menggunakan ekosistem pembayaran yang sudah mereka kenal tanpa harus bergantung pada kepemilikan kartu kredit. Model ini juga memberikan pengalaman pembayaran yang lebih terintegrasi dengan layanan perbankan yang telah digunakan sehari-hari.
Peluncuran pembayaran berulang Canva melalui Capitec Pay tidak terlepas dari peran EBANX. Perusahaan tersebut membantu meningkatkan solusi pembayaran dan menjadi penyedia layanan pembayaran global pertama yang mengintegrasikan Capitec Pay ke dalam alur pembayaran lintas negara.
Commercial Lead for Africa and the Middle East EBANX, Wiza Jalakasi, mengatakan model pembayaran berbasis kartu selama ini sering dianggap sebagai standar utama untuk layanan berlangganan digital global. Namun, menurutnya, model tersebut tidak selalu sesuai dengan karakteristik konsumen di pasar negara berkembang.
"Selama bertahun-tahun, penagihan berbasis kartu diperlakukan sebagai model default untuk produk berlangganan global, tetapi default tersebut dibangun berdasarkan perilaku konsumen di Amerika Serikat dan Eropa Barat, bukan Afrika Selatan," kata Wiza Jalakasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!