Buah RI Tembus 25 Negara, Petani Panen Pasar Dunia

ED
Kamis, 16 April 2026 | 07:35 WIB
Bagikan
Buah RI Tembus 25 Negara, Petani Panen Pasar Dunia

Di usia hampir 70 tahun, Ibu Nani Suryani masih aktif bekerja di packing house Java Fresh. /visi.news/ist

VISI.NEWS | JAKARTA - Sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung pertumbuhan social enterprises dan Businesses for Impact (BFI), DBS Foundation terus memperkuat ekosistem usaha yang mampu menciptakan dampak sosial berkelanjutan. Salah satu penerima dana hibah dari DBS Foundation yang bergerak di sektor pertanian adalah Java Fresh, menunjukkan bagaimana inovasi dan pendampingan yang tepat dapat membuka akses pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.

Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen buah-buahan terbesar di dunia. Komoditas buah-buahan menjadi kontributor utama ekspor hortikultura Indonesia pada 2020. Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, total ekspor hortikultura mencapai USD 645,48 juta, dengan nilai ekspor buah-buahan menyumbang USD 389,9 juta. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 30,31% dibandingkan tahun 2019, menandakan semakin kuatnya daya saing buah Indonesia di pasar global.

Meski begitu, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan petani di tingkat hulu. Banyak petani buah masih menghadapi keterbatasan akses pasar, standar kualitas ekspor, hingga rantai distribusi yang panjang. Berangkat dari kesenjangan inilah Java Fresh didirikan pada 2014, dengan misi membangun rantai nilai yang lebih inklusif, menghubungkan petani kecil dengan pasar global sekaligus menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di tingkat komunitas.

“Java Fresh lahir dari pemahaman bahwa kekuatan sektor pertanian Indonesia bukan hanya pada kapasitas produksinya, tetapi pada bagaimana sistem yang tepat dapat membuka akses, meningkatkan nilai tambah, dan memberdayakan petani sebagai pelaku utama di dalam ekosistem pertanian. Kami ingin memastikan bahwa ketika buah Indonesia berhasil menembus pasar internasional, manfaat ekonominya juga kembali dirasakan oleh para petani dan komunitasnya,” ujar Co-Founder & CEO Java Fresh Margareta Astaman.

Pemahaman tersebut berangkat dari realitas yang dihadapi banyak petani buah di Indonesia. Mayoritas mitra Java Fresh merupakan petani mikro dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar. Selama bertahun-tahun, mereka menghadapi tantangan serupa: produktivitas yang terbatas, akses pasar yang sempit, hingga standar ekspor yang sulit dipenuhi tanpa pendampingan yang memadai.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.