BMKG: Abu Anak Krakatau Terbelah Dua

ED
PN
Minggu, 6 September 2026 | 22:34 WIB
Bagikan
BMKG: Abu Anak Krakatau Terbelah Dua

VISI.NEWS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperketat pemantauan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) selama 24 jam penuh. Pengawasan dilakukan untuk mengantisipasi dampak erupsi terhadap kondisi atmosfer, keselamatan penerbangan, hingga situasi laut di sekitar Selat Sunda.

 Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB, BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik dengan arah pergerakan berbeda. Sebaran tersebut mencakup wilayah yang cukup luas, mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

 Kondisi ini membuat pemantauan ruang udara menjadi sangat penting, terutama karena abu vulkanik dapat membahayakan penerbangan apabila masuk ke jalur pesawat.

BMKG Terbitkan 18 SIGMET

 Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang telah bergerak cepat sejak erupsi awal Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

 Tidak lama setelah kejadian tersebut, BMKG menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET), yakni peringatan meteorologi penting yang digunakan dalam operasional dan keselamatan penerbangan.

 Hingga Minggu (6/9/2016), sebanyak 18 SIGMET telah diterbitkan secara berkala untuk memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan sebaran abu vulkanik kepada sektor penerbangan.

 “Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9).

 Perbedaan arah sebaran tersebut membuat wilayah yang terdampak pada masing-masing ketinggian juga berbeda.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.