Belajar dari Gresik dan Ampel, Revitalisasi Tempat Ziarah Kampung Adat Mahmud Perlu Dilakukan
Silsilah Syekh Abdul Manaf (Mahmud)
Syekh Abdul Manaf sendiri memiliki silsilah sampai ke Syarif Hidayatullah (Cirebon), Maulana Abdurahman, Pangeran Atas Angin, Dipati Ukur Sani (kedua), Dipati Ukur Salis (ketiga), Eyang Nayasari (Cimanganten, Garut), Eyang Naya Dirga (Sentak Dulang) di Sukamiskin, Kampung Cisebel, Eyang Dalem H. Abdul Manaf.
Selain adanya makam Syekh Abdul Manaf Mahmud, ada juga di sana makam para pendamping lainnya, diantaranya, Makam Eyang Dalem Ibrohim, Eyang Santoan Qobul, Eyang Adipati Kertamanah namun belum banyak diketahui publik.
Menjaga Wasiat Leluhur
Dimana wasiatnya yang kini terus dipertahankan para muridnya yang juga penduduk kampung tersebut adalah, terkait bangunan arsitekturnya, yang tidak boleh permanen, sehingga bangunan rumah penduduk adat di sana, sampai saat ini, di buat persis seperti bangunan rumah panggung masyarakat Sunda tempo dulu.
Selain amanat wasiat tersebut, juga ada larangan perkara memainkan alat musik seperti Gong, yang tabu di bunyikan di sana, dan larangan lainnya, tidak boleh memelihara soang atau angsa.
Keunikan wasiat yang dipertahankan sampai kini itulah, yang membuat penduduk Kampung Mahmud mampu memiliki ciri khas kuat, yang akhirnya bisa menunjukan jati dirinya, dimana adanya tanggung jawab mengemban wasiat Karuhun pendiri Kampung Mahmud, yang pada akhirnya, mendatangkan keberkahan bagi penduduk kampung itu sendiri.
Utamanya dengan dikenalnya Kampung Mahmud ini sebagai kampung adat, situs budaya, di tambah adanya Makam Pendiri Kampung yang merupakan ulama penyiar Islam di kabupaten Bandung yang sangat dihormati keberadaannya, karena jasanya, telah menjadikan Islam tersebar luas, hingga ia pun dianggap sebagai pakubuminya wilayah Kabupaten Bandung.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!