"Bebaskan Keluarga Kami dari Jerat Kerja Paksa dan Perbudakan di Myanmar!"
Setiap hari anak-anak bertanya, “kapan ayah pulang?” "Pertanyaan itu tidak bisa kami jawab. Kami para perempuan terpaksa mengambil peran sebagai ayah, sambil bekerja apa saja untuk bertahan hidup," tandasnya.
'Kami, para perempuan, sadar betapa besar dan gagahnya Indonesia. Kami melihat, Ibu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dengan sangat gagah berteriak tentang kemerdekaan Palestina, dan tentang Indonesia yang siap berdiri menentang penindasan terhadap rakyat Palestina. Kami berharap sikap yang sama dapat ditunjukkan pada persoalan di Myanmar, yang -setahu kami dari pemberitaan media- dilanda peperangan tanpa henti yang menyengsarakan rakyatnya".
Para perempuan ini percaya, bangsa ini menjadi besar ketika mampu menunjukan keberpihakan kepada orang-orang yang miskin dan terdiskriminasi, seperti pernah dilakukan pada Konferensi Asia Afrika, kala Indonesia menjadi motor bagi bangsa bangsa terjajah untuk melawan Kolonialisme.
"Kami, lima perempuan, berdiri di sini meminta negara dengan sungguh-sungguh mengupayakan pembebasan anggota keluarga yang disekap perusahaan mafia di Myanmar. Kami tidak ingin dipermainkan lagi, kami tidak akan mentolerir sikap acuh tak acuh dari petugas negara yang tidak mempunyai simpati terhadap situasi kami," ungkapnya.
Selama ini mereka terbiasa dilecehkan dari petugas pemerintah yang mengurus masalah ini. Mereka tidak cukup dinasihati dengan kata “sabar” saat mereka menanyakan perkembangan mengenai keluarganya. Mereka sudah cukup menyampaikan semua informasi yang dimiliki. Sudah cukup keterangan dan bukti bahwa selama ini mereka telah ditindas sampai diluar batas.
"Kami, lima perempuan, sudah dua tahun menunggu kepulangan keluarga kami. Kami terus membangun solidaritas. Gentar bukanlah pilihan bagi kami. Kami percaya negara seharusnya membebaskan keluarga kami di sana. Kami percaya hal itu 'bisa dilakukan'. Kami menyaksikan, negara seperti Uganda, Malaysia, Kenya, dan Tiongkok mampu membebaskan warga negara mereka yang terperangkap di Myanmar. Kami juga menyaksikan, bahwa dengan sangat gagah pemerintah membawa pulang warga Indonesia dari Gaza," katanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!