Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026 29 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026 29 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026 29 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026 29 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026 29 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Sabtu 29 Agustus 2026 29 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026

"Bebaskan Keluarga Kami dari Jerat Kerja Paksa dan Perbudakan di Myanmar!"

ED
Rabu, 1 Mei 2024 | 05:24 WIB
Bagikan
"Bebaskan Keluarga Kami dari Jerat Kerja Paksa dan Perbudakan di Myanmar!"

VISI.NEWS | BANDUNG -Nurmaya, Yulia Yasmin, Sylvie, Tan, dan Yuli adalah keluarga dari lima warga negara Indonesia yang sampai sekarang dipekerjakan dan disiksa di perusahaan penipuan online yang beroperasi di Phalu,Myanmar. Mereka tergabung dalam Solidaritas Korban Jerat Kerja Paksa dan Perbudakan.

"Sudah dua tahun kami menanti pembebasan dan kepulangn mereka. Kami tidak menunggu dengan hanya duduk manis. Kami sudah mengadukan apa yang dialami keluarga kami ke pemerintah; mulai dari Polisi, Kementerian Luar Negeri, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), hingga pemerintah daerah di tempat kami tinggal, dan Lembaga pengiriman Tenaga Kerja," ujar Yulia adik kandung dari Wildan yang sampai sekarang belum bisa keluar dari Myanmar, Selasa (30/4/2024) malam.

Sampai Ramadan tahun ini (Mei-April 2024), yang lazimnya merupakan momen kumpul keluarga yang membahagiakan, katanya, belum dapat bertemu dengan keluarga dan sanak saudara mereka.

"Keluarga dan sanak saudara kami berangkat ke Myanmar untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Apa boleh buat, kami tidak punya keistimewaan di sini untuk memilih pekerjaan yang baik," ungkap Yulia.

Pihaknya meyakini, bagi banyak orang di negara ini, niat untuk memperbaiki nasib keluarga merupakan niat yang baik. Tapi apa daya, niat baik ini dimanfaatkan mafia tenaga kerja untuk mendapat keuntungan dari hasil keringat dan jerih payah orang lain.

Keluarga dan sanak saudara mereka dijanjikan kerja dengan upah yang baik di Thailand, negara tujuan untuk berlibur dan berbelanja untuk orang-orang kaya Indonesia. "Tapi tidak bagi kami. Thailand hanyalah pintu masuk untuk mengelabui petugas penjaga perbatasan. Tidak ada kecurigaan sama sekali, ketika mereka dari Thailand diseberangkan melalui jalan darat ke Myanmar. Kami hanya orang miskin yang belum pernah pergi ke luar negeri, dan tidak paham tentang seluk-beluk permasalahannya," ungkap Yulia lagi.

Keluarga dan sanak saudara mereka akhirnya dipekerjakan di perusahaan, di wilayah perbatasan Thailand-Myanmar yang sedang dilanda konflik bersenjata. Baru sesudahnya mereka menyadari bahwa mereka telah ditipu. Tidak seperti yang dijanjikan, mereka dipekerjakan untuk melakukan penipuan di dunia maya. Pekerjaan yang jelas bertentangan dengan hati nurani. "Kami memang orang miskin. Tapi kami tidak diajari untuk menipu, apalagi menipu bangsa sendiri".

Keluarga dan sanak saudara mereka kemudian terperangkap di negara yang sedang dilanda perang. Pulang ker rumah tidak bisa, dan terpaksa bertahan, bekerja di perusahaan yang seluruh penjaganya memegang senjata api. Akhirnya, yang bisa dilakukan adalah pasrah.

Beruntung mereka di sini masih dapat berkomunikasi dengan mereka melalui telepon selular, melalui nomor yang digunakan perusahaan itu untuk melancarkan operasi penipuannya.

"Dari komunikasi tersebut kami mendapat sedikit informasi tentang kondisi mereka. Sudah terperangkap di negeri asing, kondisi mereka sangat memilukan: disuruh bekerja terus hingga melampaui batas; disiksa bila tidak memenuhi target: dipukul dengan kayu, disetrum, disuruh jalan jongkok berkali kali; istirahat/makan hanya 30 menit, dan waktu untuk tidur hanya tiga jam sehari. Selebihnya adalah bekerja," papar Yulia.

Seluruh kondisi tersebut tidak hanya menyengsarakan keluarga dan sanak saudara mereka nan jauh di sana, yang melakukan kerja paksa untuk mafia penipu. Tapi juga menimbulkan derita batin bagi keluarga mereka di sini. Sejak mereka meninggalkan rumah, yang keluarga terus rasakan di sini hanyalah kekuatiran, kecemasan dan amarah. Tak pernah sedikitpun terbayangkan, martabat dan harga diri keluarga di sini sebagai manusia begitu dilecehkan sampai ke titik nol.

"Kami para perempuan harus menelan pil pahit. Terlebih setelah mengetahui bahwa keluarga kami di sana sudah dua sampai tiga kali dijual ke perusahaan lain karena dianggap tidak produktif. Pada Maret 2024, kami dihubungi perusahaan mafia, yang meminta tebusan untuk pembebasan keluarga kami. Di bawah todongan senjata, saudara kami merengek, meminta kami untuk membayar tebusan. Kami jelas bukan orang berpunya yang mampu membayar tebusan yang nilainya tidak kecil. Sekali lagi, kami hanya bisa pasrah kepada keadaan, sambil menangis dan dalam hati menahan geram. Saat ini kami hanya bisa bertahan dan menahan rindu," ungkapnya.

Setiap hari anak-anak bertanya, “kapan ayah pulang?” "Pertanyaan itu tidak bisa kami jawab. Kami para perempuan terpaksa mengambil peran sebagai ayah, sambil bekerja apa saja untuk bertahan hidup," tandasnya.

'Kami, para perempuan, sadar betapa besar dan gagahnya Indonesia.  Kami melihat, Ibu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dengan sangat gagah berteriak tentang kemerdekaan Palestina, dan tentang Indonesia yang siap berdiri menentang penindasan terhadap rakyat Palestina. Kami berharap sikap yang sama dapat ditunjukkan pada persoalan di Myanmar, yang -setahu kami dari pemberitaan media- dilanda peperangan tanpa henti yang menyengsarakan rakyatnya".

Para perempuan ini percaya, bangsa ini menjadi besar ketika mampu menunjukan keberpihakan kepada orang-orang yang miskin dan terdiskriminasi, seperti pernah dilakukan pada Konferensi Asia Afrika, kala Indonesia menjadi motor bagi bangsa bangsa terjajah untuk melawan Kolonialisme.

"Kami, lima perempuan, berdiri di sini meminta negara dengan sungguh-sungguh mengupayakan pembebasan anggota keluarga yang disekap perusahaan mafia di Myanmar. Kami tidak ingin dipermainkan lagi, kami tidak akan mentolerir sikap acuh tak acuh dari petugas negara yang tidak mempunyai simpati terhadap situasi kami," ungkapnya.

Selama ini mereka terbiasa dilecehkan dari petugas pemerintah yang mengurus masalah ini. Mereka tidak cukup dinasihati dengan kata “sabar” saat mereka menanyakan perkembangan mengenai keluarganya. Mereka sudah cukup menyampaikan semua informasi yang  dimiliki. Sudah cukup keterangan dan bukti bahwa selama ini mereka telah ditindas sampai diluar batas.

"Kami, lima perempuan, sudah dua tahun menunggu kepulangan keluarga kami. Kami terus membangun solidaritas. Gentar bukanlah pilihan bagi kami. Kami percaya negara seharusnya membebaskan keluarga kami di sana. Kami percaya hal itu 'bisa dilakukan'. Kami menyaksikan, negara seperti Uganda, Malaysia, Kenya, dan Tiongkok mampu membebaskan warga negara mereka yang terperangkap di Myanmar. Kami juga menyaksikan, bahwa dengan sangat gagah pemerintah membawa pulang warga Indonesia dari Gaza," katanya.

Industri Penipuan Online, menggoda orang untuk bekerja ke luar negeri, benar benar menyengsarakan banyak orang. Korban sudah banyak. Mustahil pemerintah tidak tahu menahu tentang hal ini. Mereka yakin bahwa banyak perempuan di luar sana yang bernasib sama dengan mereka, bingung tak tahu tidak tahu apa yang harus dilakukan. Rakyat kecil seperti mereka tidak mengetahui apa itu diplomasi dan batas Negara. Yang mereka paham, tidak banyak lapangan kerja yang tersedia bagi mereka disini.

Oleh karena itu, mereka menyerukan dan meminta dukungan dari organisasi serta Individu untuk mendukung pernyataan sikap dan tuntutan mereka  sebagai berikut :

  1. Meminta Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk dapat menjumpai kami, warga yang sedang menghadapi penderitaan, untuk menjelaskan perkembangan terkini kasus ini.
  2. Bebaskan Keluarga Kami yang terjebak di Perusahaan Penipuan Online di Myanmar, evakuasi mereka segera, dan berikan perlindungan sebaik baiknya agar mereka dapat pulang ke Indonesia dengan selamat.
  3. Meminta Pemerintah dan Kepolisian untuk dapat menangkap segera para kaki tangan Mafia, yang mengatur dan memberangkatkan pekerja, yang saat ini masih berkeliaran; mengingat kami sudah melaporkan tindak pidana yang telah mereka lakukan.
  4. Meminta agar seluruh jajaran pemerintah yang bertanggung jawab terhadap masalah ini untuk dapat lebih berempati dan menunjukkan komitmen yang serius dalam upaya penanganan.
  5. Meminta seluruh Organisasi Masyarakat yang mendukung penghormatan Hak asasi Manusia untuk dapat terlibat dalam memantau kasus ini dan memberikan dukungan penuh untuk pembebasan keluarga kami.
  6. Meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Ombudsman Republik Indonesia, untuk terus memantau dan memberikan dukungan penuh dengan berorientasi kepada Hak Korban.
Solidaritas Korban Jerat Kerja Paksa dan Perbudakan

1. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) 2. Migrant Care 3. LBH Bandung 4. LBH Semarang 5. Lingkar Studi Advokat (LSA) 6. Perkumpulan Pegiat Masyarakat (Safety) 7. Aksi Kamisan Bandung 8. Pasar Gratis Bandung 9.Federasi buruh migran sarbumusi NU ( Nahdlatul ulama) 10. Trimurti

@mpa

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.