"Bebaskan Keluarga Kami dari Jerat Kerja Paksa dan Perbudakan di Myanmar!"
Keluarga dan sanak saudara mereka akhirnya dipekerjakan di perusahaan, di wilayah perbatasan Thailand-Myanmar yang sedang dilanda konflik bersenjata. Baru sesudahnya mereka menyadari bahwa mereka telah ditipu. Tidak seperti yang dijanjikan, mereka dipekerjakan untuk melakukan penipuan di dunia maya. Pekerjaan yang jelas bertentangan dengan hati nurani. "Kami memang orang miskin. Tapi kami tidak diajari untuk menipu, apalagi menipu bangsa sendiri".
Keluarga dan sanak saudara mereka kemudian terperangkap di negara yang sedang dilanda perang. Pulang ker rumah tidak bisa, dan terpaksa bertahan, bekerja di perusahaan yang seluruh penjaganya memegang senjata api. Akhirnya, yang bisa dilakukan adalah pasrah.
Beruntung mereka di sini masih dapat berkomunikasi dengan mereka melalui telepon selular, melalui nomor yang digunakan perusahaan itu untuk melancarkan operasi penipuannya.
"Dari komunikasi tersebut kami mendapat sedikit informasi tentang kondisi mereka. Sudah terperangkap di negeri asing, kondisi mereka sangat memilukan: disuruh bekerja terus hingga melampaui batas; disiksa bila tidak memenuhi target: dipukul dengan kayu, disetrum, disuruh jalan jongkok berkali kali; istirahat/makan hanya 30 menit, dan waktu untuk tidur hanya tiga jam sehari. Selebihnya adalah bekerja," papar Yulia.
Seluruh kondisi tersebut tidak hanya menyengsarakan keluarga dan sanak saudara mereka nan jauh di sana, yang melakukan kerja paksa untuk mafia penipu. Tapi juga menimbulkan derita batin bagi keluarga mereka di sini. Sejak mereka meninggalkan rumah, yang keluarga terus rasakan di sini hanyalah kekuatiran, kecemasan dan amarah. Tak pernah sedikitpun terbayangkan, martabat dan harga diri keluarga di sini sebagai manusia begitu dilecehkan sampai ke titik nol.
"Kami para perempuan harus menelan pil pahit. Terlebih setelah mengetahui bahwa keluarga kami di sana sudah dua sampai tiga kali dijual ke perusahaan lain karena dianggap tidak produktif. Pada Maret 2024, kami dihubungi perusahaan mafia, yang meminta tebusan untuk pembebasan keluarga kami. Di bawah todongan senjata, saudara kami merengek, meminta kami untuk membayar tebusan. Kami jelas bukan orang berpunya yang mampu membayar tebusan yang nilainya tidak kecil. Sekali lagi, kami hanya bisa pasrah kepada keadaan, sambil menangis dan dalam hati menahan geram. Saat ini kami hanya bisa bertahan dan menahan rindu," ungkapnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!