Banyak Pengemudi Tak Paham Cara Pengereman di Jalan Menurun. Ini Penjelasan KNKT

ED
Sabtu, 26 Februari 2022 | 04:59 WIB
Bagikan
Banyak Pengemudi Tak Paham Cara Pengereman di Jalan Menurun. Ini Penjelasan KNKT
VISI.NEWS | SOLO - Investigator senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Achmad Wildan, mengingatkan para pengemudi truk dan bus, termasuk tenaga mekanik, para pekerja bengkel mobil dan para pengusaha transportasi, tentang pentingnya mencegah kecelakaan fatal akibat terjadinya rem blong baik pada truk maupun bus. Peringatan tersebut, disampaikan Achmad Wildan, dalam sosialisasi perbengkelan, tatacara mengemudi dan teknis laik jalan, yang digelar Dinas Perhubungan (Dishub) Pemkot Solo, di aula gedung Wahana, kawasan Manahan, Jumat (25/2/2022) petang. Sosialisasi yang diikuti sekitar 40 peserta, terdiri dari pengemudi, mekanik, pengusaha bengkel dan pengusaha angkutan tersebut, karena dalam beberapa waktu terakhir terjadi sejumlah kecelakaan lalu lintas yang menelan banyak korban jiwa, di antaranya di Sumedang, di Pontianak, di Pasuruan dan belum lama ini di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). "Berdasarkan hasil investigasi KNKT, kecelakaan bus dan truk yang terjadi akhir-akhir ini, penyebabnya adalah rem blong. Terjadinya kegagalan pengereman, terutama saat bus dan truk di jalur menurun tersebut, disebabkan beberapa faktor, antara lain pengemudi tidak paham perbedaan cara pengereman di jalan datar dan jalan menurun," kata Wildan. Investigator senior KNKT itu, mengungkapkan, sebenarnya bus dan truk sudah dilengkapi berbagai sistem pengereman, baik rem berbasis gesekan untuk menghentikan kendaraan dan sistem pengereman untuk mengurangi kecepatan kendaraan yang disebut rem pembantu yang tidak berbasis gesekan. Dia menekankan, di jalan menurun putaran roda kendaraan yang dihasilkan gravitasi bumi lebih kencang. Semakin tinggi posisi kendaraan, semakin besar massanya dan semakin cepat putaran rodanya. Kecepatan kendaraan bukan karena putaran mesin dan tidak ada pengemudi menginjak pedal gas di jalan menurun. "Rem pembantu atau auxilary brake pada bus dan truk, adalah berbentuk engine brake dan exhaust brake. Pada beberapa kendaraan terbaru, sekarang dilengkapi yang disebut retarder. Fungsi auxilary brake bukan untuk menghentikan putaran roda, melainkan melambatkan. Jadi di jalan menurun, fungsi rem ini untuk mengurangi energi kinetik kendaraan, sehingga risiko rem blong menjadi kecil," jelasnya. Menurut Wildan, di jalan menurun risiko rem blong sangat tinggi. Upaya pengemudi menurunkan versneling juga akan gagal, karena saat kendaraan menurun dengan kecepatan tinggi oleh gravitasi bumi menjadikan torsi kendaraan juga lebih cepat. "Teknologi kendaraan, khususnya truk dan bus dirancang pada saat roda berputar kencang dengan torsi tinggi, jika versneling diturunkan pasti masuk ke posisi netral. Sedangkan kalau pengemudi melakukan penereman tidak akan berhasil. Karena rem yang dipakai berulang kali akan kehilangan angin sehingga tidak berfungsi, rem blong," tandasnya. Kecelakaan akibat rem blong sendiri, kata Achmad Wildan, berdasarkan hasil investigasi penyebabnya beragam. Dia menyebut, kecelakaan bus Padma di Wado, Sumedang, penyebabnya disebut "brakefading". Sedangkan kasus truk maut di Balikpapan disebabkan angin pada sistem pengereman tekor dan pada kasus truk maut di Lawang, Pasuruan, penyebabnya sistem pengereman terkunci. Dalam kaitan itu, Wildan minta, selain pengemudi bus dan truk, para mekanik, pekerja bengkel kendaraan, termasuk pengusaha memperhatikan faktor-faktor yang berisiko terjadinya rem blong. Dia menyebut contoh, pengusaha atau pengemudi jangan menggunakan kampas rem dengan bahan murah karena dianggap pakem. Disarankan, demi keamanan agar kendaraan menggunakan kampas rem berkualitas meskipun lebih mahal.@tok

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.