Bang Mochtar Penggiat Teater Putu Wijaya Hijrah ke Pasawahan Kuningan
Bang Mochtar percaya, setiap daerah punya potensi seninya sendiri. Di Pasawahan, ia melihat anak-anak muda yang haus akan wadah untuk menyalurkan bakat. Dari situlah ia terpanggil: bukan hanya berkarya untuk dirinya, tetapi juga menyalakan obor seni bagi mereka yang ingin belajar. “Saya ingin pengalaman saya belasan tahun di teater bisa menjadi dasar bagi generasi baru di sini,” katanya penuh semangat.
Tak jarang, karya-karya Bang Mochtar juga menjadi pengingat bahwa seni bisa lahir dari kesederhanaan. Potongan kayu lapuk bisa berubah jadi patung penuh jiwa, sementara akar pohon yang dianggap sampah bisa menjelma karya instalasi. “Alam sudah memberi bahan, tugas kita hanya menyempurnakan,” begitu ia sering berkata kepada murid-muridnya.
Meski jauh dari hiruk pikuk kota, Bang Mochtar merasa justru lebih dekat dengan jati diri seninya. Gunung Ciremai, dengan sejuk udara dan suasana damainya, menjadi teman setia dalam proses kreatifnya. “Di sini, saya merasa menyatu dengan alam. Setiap embusan angin seperti membawa inspirasi baru,” tuturnya sambil menatap hamparan hijau Pasawahan.
Kini, di usia senjanya, Bang Mochtar bukan sekadar tokoh teater yang pernah berguru pada maestro. Ia adalah bukti bahwa seni bisa tumbuh di mana saja, bahkan di kampung kecil di kaki gunung. Dengan semangatnya, ia menanamkan pesan: berkesenian bukan hanya milik orang kota atau kalangan tertentu, tapi milik siapa saja yang mau menjaga hati tetap bahagia lewat karya.
@bambang melga
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!