"Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Ahli Gizi Ungkap Pilihan Sarapan yang Bantu Tingkatkan Energi Tubuh 5 Aug 2026 Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia 5 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura, Penentu Tiket Semifinal AFF 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Ahli Gizi Ungkap Pilihan Sarapan yang Bantu Tingkatkan Energi Tubuh 5 Aug 2026 Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia 5 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura, Penentu Tiket Semifinal AFF 2026 5 Aug 2026

Bang Mochtar Penggiat Teater Putu Wijaya Hijrah ke Pasawahan Kuningan

ED
Minggu, 7 September 2025 | 05:10 WIB
Bagikan
Bang Mochtar Penggiat Teater Putu Wijaya Hijrah ke Pasawahan Kuningan

VISI.NEWS | KUNINGAN - Bang Mochtar, begitu ia akrab disapa, kini menetap di bawah kaki Gunung Ciremai. Usianya memang sudah 65 tahun, namun penampilannya jauh dari kesan renta. Tubuhnya masih tegap, wajahnya penuh semangat, dan sorot matanya menyala seakan menyimpan banyak cerita. Ketika ditanya rahasia awet mudanya, ia tersenyum dan berkata, “Kita harus menjaga hati tetap bahagia. Masa tua harus diisi dengan berkarya seni. Dengan berkesenian, hidup kita bisa bersinergi dengan alam, dan alam pun membalas dengan kebahagiaan.”

Keseharian Bang Mochtar tak pernah lepas dari aktivitas kreatif. Ia senang bereksperimen dengan limbah-limbah bekas yang diolah menjadi karya seni bernilai. Dari bongkahan hebel tua, batok kelapa, akar pohon, hingga kayu yang tak lagi terpakai, semua bisa ia sulap menjadi karya unik. Siapa pun yang berkunjung ke Pasawahan, Kabupaten Kuningan, bisa menemukan jejak karyanya yang menghiasi sudut-sudut sederhana namun penuh makna.

Di balik sosoknya yang kini dikenal di Pasawahan, ada sejarah panjang dunia teater yang membentuk jiwanya. Pada masa mudanya, Bang Mochtar pernah bergabung di kelompok teater asuhan maestro Putu Wijaya. Ia berproses bersama nama-nama besar seperti Ade Mawar, Elvis, Buyung Kampret, hingga kerap bersua dengan Jose Rizal Manua dan Hasan AO. Kala itu, LPKJ—yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ)—menjadi rumah kreatif bagi mereka.

Pengalaman emas itu membuat ruh seni dalam dirinya tak pernah padam. Setiap kali ada acara rakyat di kampung—mulai dari perayaan 17 Agustus, Maulid Nabi, hingga pertunjukan kecil di panggung desa—Bang Mochtar selalu turun tangan. Ia menghadirkan kembali semangat teater yang dulu ia reguk di kota, kini dihidupkan di pedesaan dengan kesederhanaan yang hangat.

“Bagi saya, teater bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan,” ujarnya. “Lewat panggung, orang bisa belajar menghargai rasa, menumbuhkan keberanian, dan menemukan dirinya.” Dengan filosofi itu, ia tak pernah menolak ketika diminta melatih atau membimbing generasi muda setempat. Baginya, ilmu seni harus diwariskan, bukan disimpan.

Bang Mochtar percaya, setiap daerah punya potensi seninya sendiri. Di Pasawahan, ia melihat anak-anak muda yang haus akan wadah untuk menyalurkan bakat. Dari situlah ia terpanggil: bukan hanya berkarya untuk dirinya, tetapi juga menyalakan obor seni bagi mereka yang ingin belajar. “Saya ingin pengalaman saya belasan tahun di teater bisa menjadi dasar bagi generasi baru di sini,” katanya penuh semangat.

Tak jarang, karya-karya Bang Mochtar juga menjadi pengingat bahwa seni bisa lahir dari kesederhanaan. Potongan kayu lapuk bisa berubah jadi patung penuh jiwa, sementara akar pohon yang dianggap sampah bisa menjelma karya instalasi. “Alam sudah memberi bahan, tugas kita hanya menyempurnakan,” begitu ia sering berkata kepada murid-muridnya.

Meski jauh dari hiruk pikuk kota, Bang Mochtar merasa justru lebih dekat dengan jati diri seninya. Gunung Ciremai, dengan sejuk udara dan suasana damainya, menjadi teman setia dalam proses kreatifnya. “Di sini, saya merasa menyatu dengan alam. Setiap embusan angin seperti membawa inspirasi baru,” tuturnya sambil menatap hamparan hijau Pasawahan.

Kini, di usia senjanya, Bang Mochtar bukan sekadar tokoh teater yang pernah berguru pada maestro. Ia adalah bukti bahwa seni bisa tumbuh di mana saja, bahkan di kampung kecil di kaki gunung. Dengan semangatnya, ia menanamkan pesan: berkesenian bukan hanya milik orang kota atau kalangan tertentu, tapi milik siapa saja yang mau menjaga hati tetap bahagia lewat karya.

@bambang melga

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.