Asap di Musim Kemarau, Bandung Waspadai Bakar Sampah
Menurut dia, upaya menurunkan emisi akan sulit dilakukan secara optimal apabila sumber pencemar belum dipetakan secara jelas. Pemantauan konsentrasi udara ambien secara berkala juga diperlukan untuk mengetahui dinamika kualitas udara di wilayah perkotaan.
Karena itu, Sosialisasi Kualitas Udara Kota Bandung Tahun 2026 tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya udara bersih. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman antarperangkat daerah mengenai beban emisi dan kondisi kualitas udara Kota Bandung.
“Sosialisasi ini dilaksanakan untuk membangun pemahaman yang selaras antarperangkat daerah mengenai dinamika beban emisi dan kualitas udara Kota Bandung,” jelas Fiziarita.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Bandung juga menyampaikan profil dan inventarisasi emisi serta status kualitas udara kepada para pemangku kepentingan. Materi teknis mengenai metodologi pemantauan udara dan karakterisasi sumber pencemar turut diberikan kepada peserta.
Inventarisasi emisi menjadi bagian penting karena setiap sumber pencemar memiliki karakteristik berbeda. Dengan mengetahui sumber dan besaran emisi, pemerintah dapat menentukan langkah pengendalian secara lebih terarah.
Data juga memungkinkan pemerintah melihat perubahan kualitas udara dari waktu ke waktu. Dari sana, program pengendalian dapat disusun berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan sekadar berdasarkan perkiraan.
Untuk memperkuat pembahasan, Pemkot Bandung menghadirkan Peneliti Ahli Utama BRIN Prof. Dr. Muhayatun Santoso dan Dosen Institut Teknologi Nasional (Itenas) Dr. Didin Agustian Permadi, S.T., M.Eng.
Muhayatun memberikan materi mengenai pemantauan kualitas udara ambien dan karakterisasi sumber pencemar udara. Sementara Didin membahas inventarisasi emisi pencemar udara di kawasan perkotaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!