Asap di Musim Kemarau, Bandung Waspadai Bakar Sampah
Ketika sampah dibakar, asap yang muncul tidak berhenti di titik pembakaran. Dalam kondisi tertentu, asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan menyebar ke kawasan sekitar. Karena itu, aktivitas yang dilakukan di satu lokasi dapat memberikan dampak kepada lingkungan dan masyarakat yang berada di sekitarnya.
Dadang mengungkapkan, persoalan tersebut bukan sekadar teori. Ia mencontohkan kejadian kebakaran yang melibatkan material sampah di salah satu lokasi di Kota Bandung. Peristiwa tersebut sempat memberikan dampak terhadap lingkungan sekitar sehingga penanganannya membutuhkan keterlibatan sejumlah unsur.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pencemaran udara tidak dapat ditangani secara parsial. Ketika muncul dampak lingkungan, penanganannya membutuhkan koordinasi berbagai pihak.
“Ketika terjadi pencemaran, kita harus bersama-sama menanganinya. Tidak bisa hanya satu perangkat daerah,” kata Dadang.
Bagi Pemerintah Kota Bandung, pengelolaan kualitas udara juga tidak berdiri sendiri. Persoalan udara berkaitan erat dengan pengelolaan sampah, ketersediaan ruang terbuka hijau, aktivitas transportasi, serta berbagai kegiatan lain yang berpotensi menghasilkan emisi.
Karena itu, upaya menjaga udara tidak cukup hanya dilakukan ketika kualitas udara sudah menurun. Pengendalian harus dimulai dari sumber pencemar dan dilakukan secara berkelanjutan.
“Bagaimana kita mengatasi dampak lingkungan yang terjadi. Kualitas udara ini menjadi bagian penting dari kualitas lingkungan kita,” ujar Dadang.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bandung tengah berupaya memperkuat pengelolaan kualitas udara melalui pendekatan berbasis data. Kepala Bidang PPKLH Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Fiziarita, mengatakan kebijakan pengendalian pencemaran membutuhkan informasi yang akurat mengenai kondisi udara dan sumber emisi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!