Artificial Intelligence (AI) Mendorong atau Mematikan Kreativitas?
Oleh Shahirah Hamid (360info)
KETIKA film kelima dan terakhir dari film Indiana Jones, Dial of Destiny, dirilis pada tahun 2023, hal itu memicu pertukaran humor antar generasi.
Seorang generasi milenial menyatakan minatnya untuk menonton film terbaru tersebut, namun ditanggapi dengan jawaban bingung dari seorang ayah: "Film Indiana Jones mana yang akan kamu tonton?", yang menekankan sejarah panjang franchise film tersebut.
Kebingungan ini memang beralasan. Dalam adegan pembuka film tahun 2023, penonton bertemu dengan Harrison Ford versi muda, mengingatkan pada. penampilannya di film tahun 1980-an. Efek penghilangan penuaan ini dimungkinkan oleh perusahaan efek visual, Industrial Light & Magic (ILM).
Pembuatnya mengklaim bahwa mereka tidak hanya mengandalkan kecerdasan buatan, Artificial Intelligence (AI) atau pembelajaran mesin, melainkan menggunakan alat VFX komprehensif yang disebut "ILM FaceSwap" bersama dengan keahlian lebih dari 100 seniman efek visual, namun dalam pembuatan film masih memunculkan pertanyaan tentang meningkatnya penggunaan AI.
Ada kemungkinan bahwa kemajuan terbaru dalam teknologi AI dapat menyebabkan para seniman efek visual tersebut akan kehilangan pekerjaan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. Pencipta ChatGPT, OpenAI, telah meluncurkan film pendek pertama yang dibuat menggunakan alat AI video barunya, Sora, dan para pembuat film menggambarkan kreasi tersebut sebagai “benar-benar nyata”.
Klip awal yang dihasilkan menggunakan perangkat lunak AI menunjukkan bagaimana perintah tertulis sederhana dapat diubah menjadi video skenario yang realistis.
Teknologi AI luar biasa. Namun ada kekhawatiran mengenai manfaat dan implikasi etisnya, dan bagaimana hal ini terkadang menimbulkan keheranan. AI merupakan kolaborator yang mendorong batas-batas ekspresi artistik dan terkadang dipandang sebagai potensi ancaman bagi seniman. Penggunaan AI dalam film dan televisi telah menjadi topik perdebatan sejak aksi mogok di Hollywood tahun lalu, di mana para penulis dan aktor mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang masa depan mereka di industri tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!