VISI.NEWS|BANDUNG - Kemenangan Arsenal atas Chelsea kembali memantik perdebatan. Meski kokoh di puncak klasemen dan unggul atas Manchester City, skuad asuhan Mikel Arteta tetap menuai kritik usai menang 2-1 pada pekan ke-28 Premier League 2025/2026, Senin (02/03/2026) dini hari WIB.
Sorotan utama tertuju pada cara Arsenal meraih kemenangan. Dua gol The Gunners seluruhnya lahir dari situasi bola mati, mempertegas identitas baru mereka musim ini sebagai tim yang sangat efektif dalam memanfaatkan set-piece.
Gol pembuka dicetak William Saliba melalui sundulan jarak dekat setelah memanfaatkan bola hasil tandukan awal Gabriel Magalhaes dari sepak pojok. Gol kedua juga datang lewat skema serupa. Jurrien Timber menanduk umpan matang Declan Rice untuk memastikan tiga poin bagi tim tuan rumah.
Dengan tambahan dua gol tersebut, Arsenal kini telah mengoleksi 16 gol dari situasi sepak pojok sepanjang musim ini. Statistik itu menjadikan mereka salah satu tim paling berbahaya di Liga Inggris dalam skema bola mati.
Namun, keberhasilan tersebut justru memunculkan kritik. Mantan striker Blackburn Rovers, Chris Sutton, mempertanyakan kualitas permainan Arsenal meski mengakui peluang mereka menjadi juara sangat besar.
“Set-piece Arsenal, lagi. Saya rasa mereka akan juara. Tapi kalau mereka benar-benar juara, apakah ini akan jadi tim juara Premier League paling ‘jelek’ dalam sejarah? Performa mereka tidak terlihat,” ujar Sutton di BBC Radio 5 Live.
Pandangan serupa disampaikan mantan kapten Arsenal, Patrick Vieira. Ia menilai ekspektasi terhadap Arsenal kini lebih tinggi karena mereka memimpin klasemen domestik dan bersaing di kompetisi Eropa.
“Saat Anda memimpin klasemen Liga Champions dan Premier League, Anda berharap Arsenal bermain lebih menyerang. Sulit bagi mereka menciptakan peluang. Ekspektasinya lebih tinggi,” kata Vieira.
Meski demikian, Arteta tidak terusik oleh komentar tersebut. Ia menegaskan bahwa keindahan dalam sepak bola tidak selalu diukur dari gaya bermain menyerang.
“Ini bukan jelek. Anda harus memainkan pertandingan sesuai yang tersedia. Melawan Chelsea, Anda tahu persis seperti apa laga yang akan terjadi. Bagi saya, ini laga yang indah karena ada banyak kualitas dan Anda harus beradaptasi. Margin sangat tipis, duel-duel kecil yang menentukan,” ujar Arteta.
Di tengah kritik, dukungan tetap mengalir. Mantan gelandang Everton, Leon Osman, menilai Arsenal hanya memaksimalkan kekuatan yang mereka miliki.
“Mereka mengandalkan set-piece lagi, seperti sepanjang musim. Jika itu adalah kekuatan Anda, kenapa tidak dimaksimalkan?” tegasnya.
Terlepas dari perdebatan soal estetika permainan, efektivitas Arsenal tidak terbantahkan. Konsistensi dalam memanfaatkan bola mati kini menjadi senjata utama yang mendekatkan mereka pada trofi Premier League musim ini. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin strategi pragmatis Arteta akan terbayar dengan gelar juara.@fajar