Anggota Komisi I Kritisi Kesepakatan Kerja Sama DCA dan FIR Indonesia-Singapura

ED
Selasa, 15 Februari 2022 | 20:00 WIB
Bagikan
Anggota Komisi I Kritisi Kesepakatan Kerja Sama DCA dan FIR Indonesia-Singapura

VISI.NEWS | JAKARTA - Sejumlah Anggota Komisi I DPR RI mengkritisi perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Singapura yang disepakati beberapa waktu lalu. Mereka menilai kesepakatan antar dua negara itu yang menghasilkan Perjanjian Kerja sama Pertahanan atau Defence Cooperation Agreement (DCA) dan Flight Information Region (FIR) belum jelas.

Hal itu pertama kali disampaikan Anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon. Ia mengatakan walaupun masih dalam bentuk MoU, namun substansi kesepakatan itu sangat penting bagi kedaulatan Indonesia. Ia kemudian menyampaikan hingga saat ini DPR belum menerima surat permintaan dari pemerintah untuk meratifikasi hasil perjanjian tersebut.

“Dimana kami ingin bertanya meminta penjelasan? Sampai hari inipun pemerintah tidak memberikan suratnya kepada DPR," ujar Effendi dalam Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (14/2/2022).

Menurut Effendi, ada kesepakatan di mana Singapura diperbolehkan menggelar latihan militer bersama pihak ketiga di wilayah Indonesia. Kesepakatan DCA dengan Singapura juga sudah pernah dilakukan pada tahun 2007. Namun, akhirnya tidak berhasil diratifikasi karena pemberlakuannya dianggap banyak merugikan Indonesia.

“Saya kira tidak semudah itu kita menggadaikan (kedaulatan) hanya untuk ekstradisi yang sasarannya tidak tahu ke mana.  Kalau 18 tahun minus 2022 itu yang disasar siapa. Dulu seingat saya, yang disasar adalah pelaku - pelaku BLBI walaupun akhirnya tidak pernah tercapai juga sasarannya," kata Effendi.

Effendi juga mempertanyakan soal kesepakatan pelayanan navigasi penerbangan ruang udara atau FIR di atas wilayah Kepulauan Riau dan Natuna. Mengingat dalam kesepakatan, ruang udara di ketinggian 0 sampai 37 ribu kaki atas wilayah Kepulauan Riau dan Natuna masih merupakan kewenangan dari Pemerintah Singapura.

“Yang FIR juga, FIR apa sih Bu (Menlu)? Menteri Perhubungan bilang ini bentuk kedaulatan yang kembali, kedaulatan yang mana? Dari 0-37 ribu feet itu daerah kekuasaan siapa? Apakah kita pernah dulu 17 Agustus 1945 subjek itu bahwa ada daerah dari 0-37 ribu feetenggak ada," kritik politisi PDI-Perjuangan itu.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.