Alex Indra Lukman Minta Pemerintah Segera Maping Pembelian Gabah Kering
Editor
Desi Rossilawati
Kamis, 20 Maret 2025 | 15:54 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menilai bahwa permintaan Bulog agar petani menunda masa panen bukanlah langkah yang bijak dalam menghadapi puncak panen raya pada Kuartal I Tahun 2025.
"Pemerintah harus segera merancang peta jalan (maping) pembelian produksi Gabah Kering Panen (GKP) petani di masa panen raya, sehingga semuanya bisa terserap dengan optimal dan petani tidak dirugikan," harap Alex dalam pernyataan tertulis, Kamis (20/3/2025).
Saat ini, produksi gabah di wilayah Kancab Kediri, yang meliputi Kabupaten Kediri, Kota Kediri, dan Kabupaten Nganjuk, mencapai 450 ton per hari. Sementara itu, data Dinas Pertanian memperkirakan bahwa puncak panen pada Maret hingga April 2025 akan menghasilkan sekitar 5.600 ton gabah per hari.
"Panen raya ini akan terjadi di seluruh wilayah yang jadi kewenangan Bulog dalam menyerap GKP petani. Kasus di Kancab Kediri ini, jadi pembelajaran berharga agar tak terulang di Kancab lainnya di tanah air," ujar Alex.
Alex juga menyoroti peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait masuknya musim hujan dengan fenomena La Nina Lemah. Fenomena ini diperkirakan meningkatkan curah hujan sebesar 20-40 persen, yang dapat meningkatkan risiko gagal panen jika panen ditunda.
"Ancaman La Nina ini merupakan bom waktu bagi petani. Potensi terjadi gagal panen jika dilakukan penundaan masa panen," ujar Alex.
Oleh karena itu, ia meminta kementerian dan lembaga terkait segera berkoordinasi untuk menyusun mekanisme pembelian GKP agar bisa segera diolah menjadi beras oleh Bulog.
"Hari ini, petani sudah sangat bergairah dengan adanya kewajiban Bulog membeli gabah petani apapun kualitasnya, sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kg," ungkap Alex.
"Tak elok, kegembiraan petani ini kemudian kita tempatkan mereka pada posisi bahaya. Waktu panennya diminta ditunda, ditengah adanya ancaman La Nina sebagaimana dirilis BMKG," tuturnya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada Januari dan Februari 2025 masing-masing mencapai 1,31 juta ton dan 2,08 juta ton. Sementara pada Maret, jumlahnya diperkirakan meningkat tajam hingga 5,20 juta ton.
Dengan tren ini, produksi beras pada April dan Mei 2025 diperkirakan tetap surplus, bahkan melebihi kebutuhan konsumsi bulanan sebesar 2,5 juta ton. Secara keseluruhan, produksi beras nasional untuk triwulan pertama 2025 diprediksi mencapai 8,59 juta ton, jauh lebih tinggi dari perkiraan konsumsi 7,77 juta ton, sehingga akan ada surplus sebesar 820 ribu ton.
Surplus ini menunjukkan pencapaian positif dalam mewujudkan swasembada pangan, sebagaimana ditargetkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Namun, agar potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal, pemerintah perlu memastikan mekanisme serapan gabah berjalan lancar dan tidak ada kendala dalam penyimpanan serta distribusi hasil panen. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!