AI Merevolusi Perlawanan Terhadap Kanker dan Diabetes
Contohnya, model pembelajaran mesin dapat mengidentifikasi antigen tumor baru yang tidak terlihat oleh mata manusia namun sangat penting untuk pengenalan imun, serta menyoroti molekul checkpoint imun yang menekan aktivitas sel T—sel imun yang mendeteksi dan menghancurkan sel yang terinfeksi atau kanker. Antigen tumor baru membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker, sementara molekul checkpoint imun dapat menghambat respons ini, menjadikannya sasaran penting dalam imunoterapi kanker. Pembelajaran mesin dapat membantu mengidentifikasi antigen tersembunyi yang penting untuk penargetan imun dan menandai protein checkpoint yang melemahkan respons sel T.
Temuan ini sudah digunakan oleh perusahaan farmasi: AstraZeneca, misalnya, telah bekerja sama dengan Immunai untuk menerapkan pemodelan imun berbasis AI untuk menemukan biomarker dan memandu strategi dosis obat dalam uji klinis onkologi.
Penemuan Biomarker
Salah satu tantangan terbesar dalam imunologi kanker adalah menentukan pasien mana yang benar-benar akan mendapat manfaat dari imunoterapi seperti inhibitor checkpoint, jenis pengobatan kanker yang membantu sistem kekebalan tubuh melawan kanker dengan memblokir sinyal dari protein checkpoint, memungkinkan sel T untuk membunuh tumor. Tidak semua tumor akan merespons terapi ini, dan tanpa biomarker yang dapat diandalkan, banyak pasien yang mengalami perawatan yang tidak efektif dan membuang-buang waktu. AI membantu memecahkan masalah ini dengan menganalisis dataset kompleks seperti citra medis, urutan genetik, dan tanda tangan imun untuk mengidentifikasi prediktor respons.
Optimisasi Imunoterapi
AI tidak hanya memprediksi siapa yang akan merespons imunoterapi, tetapi juga menyempurnakan bagaimana perawatan dirancang dan diberikan. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap tumor harus seimbang dengan menghindari penyakit autoimun sebagai efek samping dari sistem kekebalan yang terlalu aktif.
Model AI menggabungkan informasi genetik pasien (data genomik), data protein yang juga dikenal sebagai proteomik, serta informasi lain dari rekam medis pasien untuk meniru interaksi tumor dengan sistem kekebalan tubuh dan merancang strategi perawatan yang efisien.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!