Ahmad Suaedy: Pemilu 2024 Jangan Sampai Memunculkan Polarisasi di Masyarakat
VISI.NEWS | BANDUNG - Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024, media sosial mulai diramaikan oleh berita-berita politik yang bermuara pada aksi dukungan terhadap bakal calon presiden yang sudah dideklarasikan masing-masing partai politik atau gabungan partai politik.
Secara umum, narasi dan konten yang disebar oleh masing-masing pendukung bakal calon menampilkan keunggulan, prestasi, hingga kehidupan pribadi. Namun, ditemukan pula akun-akun media sosial yang menyudutkan bakal calon presiden tertentu dengan narasi yang mengancam adanya perpecahan.
Perdebatan di media sosial terkait dengan pemilu 2024 juga kian terlihat. Sikap yang sama ditunjukkan oleh para politisi, mereka cukup aktif melakukan pembelahan dengan cara-cara yang sedikit provokatif.
Pemilu 2019 lalu dianggap sebagai Pemilu yang cukup melelahkan. Pada gelaran Pemilu tahun itu, ada banyak penyelenggara pemilu yang wafat karena kelelahan. Demikian pula para pendukung calon yang juga harus merenggut nyawa akibat mengikuti aksi demonstrasi terkait hasil pilpres 2019.
Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Ahmad Suaedy, mengatakan, pemilu 2024 jangan sampai memunculkan polarisasi di tengah-tengah masyarakat. Menurut dia, kebersamaan dan persaudaraan sesama anak bangsa jauh lebih penting dibanding sekadar mendukung calon tertentu.
Mantan peneliti senior Wahid Institute ini menambahkan, pemimpin agama-agama atau pimpinan organisasi masyarakat berbasis agama di Indonesia, memiliki peranan yang cukup penting untuk membuat suasana Pemilu 2024 yang damai dan sejuk. Salah satu upaya yang bisa dilakukan, lanjut Suaedy, yaitu harus adanya pertemuan antara masing-masing pemimpin agama, atau pemimpin Ormas.
“Mereka semua ketemu, membicarakan masa depan Indonesia dan strategi menghadapi pilpres,” kata Suaedy kepada NU Online, Senin (15/5/2023). Suaedy menilai, perdebatan di media sosial saat ini cenderung mengkhawatirkan, karena mulai terlihat menyinggung masalah identitas agama. Untuk mengikis polarisasi di tengah-tengah masyarakat, peran pemimpin agama dan pemimpin ormas sangat dibutuhkan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!