Agung Yansusan : Anggaran Pengelolaan Sampah Besar, Kenapa Masih ada Pembakaran Sampah Sembarangan dan Menimbulkan Polemik
Agung mencontohkan kalau Pemkab Bandung memang tidak bisa mengangkut sampah-sampah residu rumah tangga di desa-desa dikarenakan Sarana dan Prasarananya kurang, seperti harus membeli truk namun tidak ada anggaran dan itu membutuhkan biaya yang mahal dan lain sebagainya, solusinya menggunakan metode KPBU.
"Jadi di rencana induk persampahan ada solusinya, kalau Sapras persampahan susah untuk dianggarkan, gunakan sistem metode KPBU dimana itu nantinya melibatkan sektor swasta untuk bisa mengelola sampah di setiap kecamatan-kecamatan, menurut saya solusi pertama itu jadi keterlibatan swasta seperti di daerah-daerah lain, kita belum berjalan metode ini," terangnya.
Politisi dari partai Golkar ini juga mengatakan bahwa untuk pemilihan, pemilahan sampah itu perlu kerja keras dan edukasi yang masif dari semua pihak.
"Karena dilihat di sini untuk pemilihan, pemilahan sampah itu belum ada terlihat secara nyata dampak ekonominya untuk masyarakat dan pemerintah daerah, jadi harusnya kayak di Kota Surabaya, di sana itu memilah sampah-sampah dari botol, dan terasa dampak ekonominya. Contoh daerah Malang juga, botol plastik itu dipakai untuk sebagai ganti tiket naik bus jadi berguna ada gerakan seperti itu terus kalau berobat ke klinik bawa sampah plastik," ungkap anggota DPRD Jawa Barat terpilih pada periode 2024-2029 ini.
Agung menekankan agar jangan hanya sebatas anjuran-anjurannya saja kepada masyarakat. Justru harus lebih banyak mengambil solusi lainnya ketika tidak mempunyai TPA pribadi.
"Di Garut saja punya dua TPA nya itu, nah kenapa kita tidak padahal Kabupaten Bandung cukup banyak penyumbang sampah, waktu di RPJP itu saya mengajukan bahwa kita harus mempunyai tempat pembuangan akhir sampah mandiri," ucapnya.
"Selama ini kita punya TPA pembuangan regional yang berada di Sari Mukti, kemudian nanti berada di Legok Nangka, tapi kalau bermasalah seperti sekarang, misalnya regional ditutup kita mau buang ke mana nantinya akan bingung," tambahnya.
Sementara itu, kata Agung, di Daerah Purwokerto pengolahan sampah menjadi briket, dan briket nya dijual ke pabrik semen yang akhirnya bisa menjadi pendapatan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!