AFJ Desak McDonald's RI Percepat Transisi Cage-Free
VISI.NEWS - Animal Friends Jogja (AFJ) menggelar aksi damai di depan kantor pusat PT Rekso Nasional Food, pemegang lisensi McDonald's Indonesia, di Jakarta. Aksi yang diikuti 15 peserta ini merupakan kelanjutan dari aksi serupa di Semarang pada April 2026 lalu. Aksi ini mendesak McDonald's Indonesia agar segera mempublikasikan roadmap nasional transisi menuju penggunaan telur bebas sangkar (cage-free), memperkuat transparansi implementasi komitmen kesejahteraan hewan, serta membuka ruang dialog.
Peserta aksi menyampaikan tuntutan mereka melalui orasi, poster, serta diiringi tabuhan drum. Selain itu, rangkaian aksi ini juga menampilkan visual kondisi sempit sistem kandang baterai melalui truk mobitron LED. Truk tersebut selanjutnya akan berkeliling di kawasan Jakarta selama sepekan untuk menyebarluaskan kampanye sekaligus mengedukasi publik mengenai pentingnya transisi menuju penggunaan telur cage-free.
Perwakilan manajemen McDonald's Indonesia juga menerima bingkisan simbolis dari Animal Friends Jogja (AFJ) yang berisi dokumen rekapitulasi aksi dan dorongan publik kepada McDonald's Indonesia sepanjang 2016–2025, sebuah jam sebagai simbol waktu yang terus berjalan tanpa adanya komitmen cage-free di tingkat nasional, serta telur simbolis dan kartu pos berisi aspirasi. Menurut AFJ pihak manajemen tidak memberikan tanggapan substantif atas penyampaian tersebut dan menolak untuk melanjutkan komunikasi terkait tuntutan yang disampaikan. Sikap tertutup tersebut menjadi hambatan, mengingat pentingnya transparansi dan komitmen terhadap kesejahteraan hewan bagi konsumen Indonesia.
AFJ menyoroti masih digunakannya telur dari sistem kandang baterai dalam rantai pasok McDonald’s Indonesia. Sistem kandang baterai dinilai belum sejalan dengan Lima Prinsip Kebebasan Hewan (Five Freedoms) yang menjadi acuan kesejahteraan hewan dari World Organisation for Animal Health (WOAH). Dalam sistem ini, dua hingga tiga individu ayam ditempatkan dalam kandang sempit dengan ruang gerak yang sangat terbatas, sehingga sulit mengekspresikan perilaku alami seperti bertengger, mengepakkan sayap, bersarang maupun mandi debu. Kondisi ini dapat berlangsung sepanjang hidup mereka, hingga ayam dianggap tidak lagi produktif dan akhirnya disingkirkan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!