IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Willy Aditya: PPN Buku Harus Dihapus, Akses Literasi Jangan Dibuat Mahal

Desi Rossilawati
Kamis, 11 September 2025 | 18:15 WIB
Bagikan
Willy Aditya: PPN Buku Harus Dihapus, Akses Literasi Jangan Dibuat Mahal
VISI.NEWS | JAKARTA - Buku bukan sekadar lembaran berisi tulisan atau gambar. Buku bukan juga sekadar karya tulis manusia. Lebih dari itu, buku adalah penanda sekaligus monumen kebudayaan. Di dalam buku, gagasan termaktub dan diabadikan. Di dalam buku, pendapat dan pemikiran dituangkan dan dipelajari. Karena itu, sudah semestinya keberadaannya mendapat atensi yang besar dari negara. Pesan tersebut disampaikan oleh Ketua Komisi XIII Willy Aditya saat menerima tim dari Badan Keahlian DPR yang dipimpin oleh Bayu Dwi Anggono di gedung Nusantara I, Kompleks DPR RI, Rabu (10/9/2025). Dalam kesempatan tersebut tim menyerahkan NA (naskah akademik) sekaligus draf revisi UU No. 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. Revisi atas UU tersebut memang menjadi usulan dari Willy selaku anggota dewan. Perhatiannya pada dunia buku dan perkembangannya yang dipandang cukup mengkhawatirkan, membawanya untuk melihat kembali kebijakan nasional terkait regulasi perbukuan di Tanah Air. Targetnya, revisi atas UU tersebut bisa masuk dalam prolegnas prioritas tahun 2025 ini. Dia melihat ada fenomena penurunan atensi atas keberadaan dan arti penting buku dari bangsa ini maupun pihak yang berwenang. Gelagatnya bisa dilihat dari mulai dari rendahnya kapasitas literasi anak bangsa hingga redupnya toko-toko buku dan perpustakaan. Dalam kaca mata peradaban, kenyataan ini dipandang sangat mengkhawatirkan. Willy melihat ada masalah kultural sekaligus struktural terkait fenomena tersebut. Di level kultural, terjadi pergeseran perilaku dan atensi atas buku dari bangsa ini. Buku tidak lagi menjadi bahan diskursus yang semarak dalam berbagai ruang dan kesempatan. Toko buku kini tidak lagi menjadi destinasi yang ramai dikunjungi sebagaimana satu-dua dekade sebelumnya. Keberadaannya bahkan tidak mendapat tempat yang layak dan terhormat. Di bilangan Senen, misalnya, toko buku berada di selasar yang gelap, pengap, dan tersembunyi. Demikian juga dengan perpustakaan. Keberadaannya kerap menjadi tempat dengan fasilitas ala kadarnya. Hanya di kota-kota besar fasilitas ini terbilang memadai. Disrupsi teknologi informasi memang telah menjadi faktor yang determinan dalam perubahan perilaku kebanyakan kita terkait minat terhadap buku. Meski demikian, kenyataan tersebut mestinya tidak membuat minat baca dan atensi terhadap karya berupa buku menjadi berkurang. Di level struktural, alumnus INS Kayu Tanam ini melihat bahwa UU No. 3 Tahun 2017 kurang memadai untuk menjawab tantangan dan perkembangan yang terjadi. Menurutnya, UU tersebut bias buku ajar sebagai pemenuhan program wajib belajar sembilan tahun. Hal ini telah membuat produksi buku tidak semarak dan hanya berorientasi pada pemenuhan bahan ajar semata. Problem struktural lainnya terletak pada soal harga kertas dan pajak. Ini yang membuat harga buku di Tanah Air terasa lebih mahal dibanding negara lain. “Dalam hemat saya, PPN atas buku mesti dihapuskan. Bagaimana kita akan mencerdaskan bangsa ini jika akses untuk menjadikannya cerdas malah dibuat mahal. Sudah saatnya akses-akses yang menunjang tumbuhnya peradaban luhur dari bangsa ini dibuka seluas-luasnya,” tandasnya. Semua kenyataan tersebut pada gilirannya membuat ekosistem perbukuan di Indonesia menjadi tidak sehat. Padahal ini adalah syarat utama bagi tumbuhnya literasi yang kuat bagi segenap anak bangsa. Buku adalah soko guru pengetahuan. Tanpa keberadaan buku, takkan kokoh sebuah pengetahuan. Melalui revisi atas UU tentang perbukuan, Willy mengajak semua pihak untuk mengarahkan perhatiannya pada soal yang sangat penting ini. Soal yang akan menentukan maju-mundurnya bangsa ini di masa mendatang. “Semoga ini menjadi amal jariyah kita bersama. Dan bagi saya pribadi, ini adalah ikhtiar dalam menjaga arti penting buku sebagai simbol peradaban,” pungkasnya. @givary

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.