Warga Bergerak, Sampah Menyusut: Nyengseret Jadi Contoh Bandung Bersih

ED
Selasa, 30 Desember 2025 | 04:37 WIB
Bagikan
Warga Bergerak, Sampah Menyusut: Nyengseret Jadi Contoh Bandung Bersih

VISI.NEWS | BANDUNG - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengapresiasi upaya pengelolaan sampah yang dilakukan warga Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar. Berbagai inisiatif berbasis kewilayahan dinilai mampu membantu menekan persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan serius di Kota Bandung.

Beberapa program unggulan yang mendapat perhatian langsung dari Farhan antara lain Rumah Maggot RW 05, Bank Sampah Berseri, serta Buruan Sae Sri Rezeki. Program-program tersebut dinilai menjadi bukti nyata bahwa masyarakat mampu mengambil peran penting dalam mengelola sampah dari sumbernya.

Menurut Farhan, langkah-langkah yang dilakukan warga Nyengseret menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

“Kalau hari ini kita merasa nyaman karena tidak ada tumpukan sampah, itu hasil kerja bersama. Tapi kita harus ingat, tahun depan diperkirakan kondisi penumpukan sampah bisa mencapai 200 ton hanya dalam satu hari. Ini harus jadi perhatian,” ujar Farhan saat meninjau lokasi di Kantor Kelurahan Nyengseret, Senin (29/12/2025).

Ia mengingatkan, tanpa pengelolaan yang konsisten dan berkelanjutan, persoalan sampah yang pernah terjadi berpotensi kembali terulang. Terlebih, kapasitas pengolahan sampah Kota Bandung saat ini masih belum sepenuhnya mencukupi.

“Kemampuan kita mengolah sampah sekitar 500 ton per hari, tapi yang baru bisa tertangani saat ini sekitar 300 ton per hari. Artinya masih ada selisih besar yang harus kita kelola bersama,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret menjawab tantangan tersebut, Kelurahan Nyengseret yang menjadi titik kegiatan Siskamling Siaga Bencana meluncurkan program petugas pemilah sampah di setiap RW. Setiap RW ditugaskan satu orang khusus untuk memilah sampah.

“Kita luncurkan program petugas pemilah, satu orang satu RW. Tugasnya mengedukasi warga dan mengumpulkan sampah organik,” kata Farhan.

Ia menargetkan, setiap RW mampu mengumpulkan dan memilah sedikitnya 25 kilogram sampah organik per hari. Sampah tersebut kemudian ditampung dan diolah di lokasi pengolahan yang telah ditentukan di tingkat kewilayahan.

“Tujuannya jelas, supaya tidak ada lagi penumpukan. Selama masih ada penumpukan, berarti kita masih punya masalah,” tegasnya.

Farhan menegaskan, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada edukasi yang jelas, konsisten, dan berkelanjutan kepada masyarakat. Menurutnya, ketika warga memahami cara mengelola sampah dari rumah, maka kota akan menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali.

@uli

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.