Terlalu Banyak Efek Sensorik Bisa Ganggu Wisata Digital 13 Sep 2026 Wamenaker: Jangan Takut AI, Jadikan Pengganda Produktivitas 13 Sep 2026 Minggu Pagi, 12 Gerakan Ringan Bikin Tubuh Lebih Bugar di Rumah 13 Sep 2026 Kondisi Bandara Indonesia: Kabut, Asap hingga Berawan 13 Sep 2026 Minggu, Bandung Cerah Berawan, Suhu hingga 31 Derajat 13 Sep 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Minggu 13 September 2026 13 Sep 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Minggu 13 September 2026 13 Sep 2026 Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan Picu Keluhan, Farhan Janji Kawal Keselamatan 12 Sep 2026 Gelombang Tinggi Dibalik Misteri Hilangnya 5 Jurnalis di Selat Sunda 12 Sep 2026 260 Warga Kabupaten Bandung Terima Bantuan Becak Listrik dari Presiden Prabowo 12 Sep 2026 Terlalu Banyak Efek Sensorik Bisa Ganggu Wisata Digital 13 Sep 2026 Wamenaker: Jangan Takut AI, Jadikan Pengganda Produktivitas 13 Sep 2026 Minggu Pagi, 12 Gerakan Ringan Bikin Tubuh Lebih Bugar di Rumah 13 Sep 2026 Kondisi Bandara Indonesia: Kabut, Asap hingga Berawan 13 Sep 2026 Minggu, Bandung Cerah Berawan, Suhu hingga 31 Derajat 13 Sep 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Minggu 13 September 2026 13 Sep 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Minggu 13 September 2026 13 Sep 2026 Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan Picu Keluhan, Farhan Janji Kawal Keselamatan 12 Sep 2026 Gelombang Tinggi Dibalik Misteri Hilangnya 5 Jurnalis di Selat Sunda 12 Sep 2026 260 Warga Kabupaten Bandung Terima Bantuan Becak Listrik dari Presiden Prabowo 12 Sep 2026

Wamenaker: Jangan Takut AI, Jadikan Pengganda Produktivitas

ED
PN
Minggu, 13 September 2026 | 08:10 WIB
Bagikan
Wamenaker: Jangan Takut AI, Jadikan Pengganda Produktivitas

VISI.NEWS - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor mengajak generasi muda Indonesia tidak melihat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai ancaman, melainkan sebagai teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat daya saing di dunia kerja.

Menurut Afriansyah, perkembangan AI, otomatisasi dan teknologi digital telah membawa perubahan cepat terhadap pola kerja di berbagai sektor. Kondisi tersebut membuat generasi muda perlu mempersiapkan diri dengan kompetensi yang relevan sekaligus memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

"Jangan takut pada AI, tapi jangan sampai tertinggal oleh AI. Jadikan teknologi sebagai alat pengganda produktivitas kalian," kata Afriansyah saat memberikan kuliah umum di Universitas Batanghari, Jambi, Sabtu (12/9/2026).

Pesan tersebut disampaikan di tengah perubahan kebutuhan tenaga kerja yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang memiliki latar belakang pendidikan formal, tetapi juga individu yang mampu menggunakan teknologi, memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama dan terus mengembangkan kemampuan.

Kompetensi Tidak Berhenti pada Ijazah

Afriansyah menilai ijazah tetap memiliki peran penting dalam perjalanan pendidikan dan karier seseorang, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesiapan memasuki dunia kerja.

Kompetensi, karakter dan kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting yang menentukan kemampuan seseorang menghadapi perubahan. Generasi muda karena itu perlu mulai membangun kesiapan tersebut sejak berada di bangku pendidikan.

Perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat keterampilan yang dibutuhkan perusahaan juga dapat berubah. Kemampuan yang relevan saat seseorang mulai kuliah belum tentu seluruhnya tetap sama ketika memasuki pasar kerja.

Kondisi tersebut menuntut generasi muda memiliki pola pikir pembelajar sepanjang hayat. Mereka perlu mampu mempelajari teknologi baru, memahami kebutuhan industri dan mengembangkan kemampuan sesuai perubahan yang terjadi.

AI dalam konteks tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan efisien. Namun, teknologi tetap perlu digunakan secara bijak dan tidak menggantikan kebutuhan terhadap kemampuan manusia dalam mengambil keputusan, memahami konteks dan bertanggung jawab atas pekerjaan.

Angkatan Kerja Indonesia Capai 154,91 Juta

Tantangan peningkatan kompetensi menjadi semakin penting karena Indonesia memiliki jumlah angkatan kerja yang sangat besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026 yang disampaikan dalam materi tersebut, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang. Tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,68 persen.

Di sisi lain, kelompok usia muda menghadapi tantangan tersendiri. Sebanyak 19,44 persen pemuda berusia 15–24 tahun berada dalam kondisi NEET, yaitu tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan dan tidak mengikuti pelatihan.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya upaya memperkuat hubungan antara pendidikan, pelatihan dan kesempatan kerja bagi generasi muda. Mereka tidak hanya perlu memperoleh akses terhadap pendidikan, tetapi juga membutuhkan jalur yang memungkinkan kompetensi yang diperoleh dapat terhubung dengan kebutuhan pasar kerja.

Perkembangan AI menambah dimensi baru dalam tantangan tersebut. Teknologi dapat menciptakan jenis pekerjaan dan peluang baru, tetapi pada saat yang sama juga dapat mengubah cara sejumlah pekerjaan dilakukan.

Karena itu, Afriansyah mendorong generasi muda agar tidak hanya memosisikan diri sebagai pencari kerja.

Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Kerja

Afriansyah juga mengajak anak muda mengubah pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi menciptakan pekerjaan.

Penguasaan kompetensi dan teknologi, menurut dia, dapat menjadi modal untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat. Dari persoalan tersebut, generasi muda dapat mengembangkan inovasi, usaha maupun layanan baru yang berpotensi menciptakan lapangan kerja.

AI dapat menjadi salah satu perangkat pendukung proses tersebut. Teknologi dapat digunakan untuk membantu riset, menganalisis informasi, mengembangkan ide, meningkatkan efisiensi pekerjaan hingga mendukung kegiatan usaha.

Namun, pemanfaatan AI perlu diiringi kemampuan manusia yang kuat. Teknologi akan memberikan manfaat lebih besar apabila penggunanya mampu menentukan persoalan yang hendak diselesaikan, mengevaluasi hasil yang diberikan teknologi dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang tepat.

Dengan pendekatan tersebut, AI tidak semata-mata dipandang sebagai teknologi yang mengambil alih pekerjaan manusia, tetapi sebagai alat yang dapat membantu manusia meningkatkan kapasitas dan produktivitas.

Kemnaker Siapkan Program Peningkatan Kompetensi

Untuk mendukung kesiapan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalankan sejumlah program peningkatan kompetensi.

Program tersebut antara lain Pelatihan Vokasi Nasional (PVN), Program Magang Nasional atau MagangHub, Talent and Innovation Hub (TIH) Pembinaan Talenta Vokasi Indonesia, serta pelatihan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).

Program pelatihan dan pemagangan tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat memperoleh kompetensi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Pelatihan vokasi menjadi salah satu instrumen penting karena memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan yang lebih praktis. Sementara program magang dapat mempertemukan peserta dengan lingkungan kerja sehingga mereka memperoleh pengalaman sekaligus memahami tuntutan profesional.

Penguatan talenta dan inovasi juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Kampus dan Industri Harus Terhubung

Afriansyah menilai peningkatan kualitas tenaga kerja tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah atau individu. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam memastikan pembelajaran yang diberikan tetap relevan dengan perkembangan dunia kerja.

Kampus, menurut dia, tidak hanya bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan. Mahasiswa juga perlu dibekali karakter, kompetensi, kemampuan beradaptasi dan kewirausahaan.

Keterhubungan antara perguruan tinggi dan industri menjadi semakin penting karena dunia kerja berkembang lebih cepat. Dialog dan kerja sama dengan industri dapat membantu institusi pendidikan memahami keterampilan yang dibutuhkan perusahaan sekaligus memberikan mahasiswa kesempatan mengenal lingkungan kerja secara lebih dekat.

Dengan hubungan tersebut, kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri diharapkan dapat diperkecil.

Ekosistem Ketenagakerjaan Perlu Dibangun Bersama

Persiapan generasi muda menghadapi transformasi teknologi juga membutuhkan kerja sama lintas sektor. Pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas dan media memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem ketenagakerjaan yang mendukung.

Pemerintah dapat memperkuat kebijakan, pelatihan dan akses terhadap kesempatan kerja. Perguruan tinggi dapat memperkuat kualitas pembelajaran dan keterampilan mahasiswa. Industri dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan kompetensi sekaligus membuka kesempatan magang dan kerja.

Sementara komunitas dan media dapat membantu memperluas informasi mengenai peluang, keterampilan serta perkembangan dunia kerja kepada masyarakat.

Kolaborasi tersebut menjadi penting agar transformasi digital tidak hanya menghasilkan peningkatan produktivitas bagi perusahaan, tetapi juga membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup.

AI Menjadi Peluang bagi Generasi Muda

Perkembangan AI pada akhirnya akan terus menjadi bagian dari perubahan dunia kerja. Karena itu, pilihan bagi generasi muda bukan sekadar menerima atau menolak teknologi, tetapi mempelajari cara menggunakannya secara produktif dan bertanggung jawab.

Generasi muda yang memahami teknologi sekaligus memiliki kemampuan komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, karakter dan kemauan belajar akan memiliki modal yang lebih kuat untuk beradaptasi.

Upaya tersebut sejalan dengan arah RPJMN 2025–2029 yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing global sebagai bagian penting agenda pembangunan nasional.

Pesan Wamenaker di Jambi tersebut pada akhirnya menempatkan AI sebagai salah satu instrumen dalam perjalanan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Teknologi bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga bukan sesuatu yang dapat digunakan tanpa kemampuan dan pertimbangan.

Generasi muda dituntut mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan kemampuan manusiawinya. Dengan kompetensi yang kuat, kemauan belajar dan kemampuan beradaptasi, AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, melahirkan inovasi, membuka peluang usaha dan membantu generasi muda mengambil peran lebih besar dalam perubahan dunia kerja serta pembangunan Indonesia.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.