VISI | Zalim: Belajar dari Anak-anak Kita
Padahal, makna kezaliman sesungguhnya adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, atau mengambil hak yang bukan miliknya. Zalim bisa dilakukan oleh siapa saja: orang tua pada anak, pejabat kepada rakyat, atasan kepada bawahan, bahkan kita terhadap diri sendiri.
Zalim pada diri sendiri adalah bentuk kezaliman yang sering kita abaikan. Kita terlalu sering memaksa diri menyenangkan orang lain, menyetujui sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, bahkan diam saat melihat ketidakadilan karena takut kehilangan kenyamanan. Kita tidak berani berkata “tidak” ketika dihadapkan pada kebijakan yang merugikan. Kita memforsir tubuh bekerja siang malam, padahal tubuh sudah berteriak minta istirahat. Kita diam saat hak diperlakukan semena-mena, karena khawatir dicap pembangkang.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap bentuk kezaliman, termasuk kepada diri sendiri, adalah perbuatan yang dilarang. Bahkan dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman:
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim).
Mari belajar dari anak-anak kita sendiri. Terkadang mereka yang belum banyak dijejali ambisi dunia justru bisa menunjukkan kepada kita nilai-nilai kebenaran dan kejujuran yang murni. Jangan menzalimi siapa pun, termasuk diri sendiri. Sebab dari sanalah ketenangan hidup bermula—saat kita adil terhadap sekitar dan terhadap diri sendiri.
Zalim bukan hanya tentang merampas harta atau merugikan secara fisik. Zalim adalah setiap bentuk pengambilan hak yang bukan milik kita. Dan yang paling memilukan: ketika anak-anak justru lebih paham nilai keadilan daripada orang dewasa yang telah lama mengecap pendidikan tinggi.
Mari kita belajar kembali. Mari kita membaca hati nurani sebelum membaca peraturan. Atau seperti ungkapan yang kini kian relevan: “Membaca yuk, sebelum dibacakan!” Jangan sampai kita terus menjadi generasi yang hanya pandai mendengar, tanpa pernah benar-benar memahami.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!