VISI | Tragedi Banjaran

ED
Sabtu, 6 September 2025 | 05:50 WIB
Bagikan
VISI | Tragedi Banjaran

Oleh Aep S. Abdullah

KASUS tragis di Banjaran, Kabupaten Bandung, meninggalkan luka yang dalam. Seorang ibu muda, EN (34), bersama dua anaknya ditemukan tak bernyawa di rumahnya. Polisi menduga sang ibu lebih dulu meracuni anak-anaknya, lalu mengakhiri hidup dengan gantung diri. Sebuah surat wasiat dalam bahasa Sunda tertinggal, berisi curahan hati tentang kelelahan hidup, lilitan utang, dan rasa putus asa.

Kasus ini bukan sekadar peristiwa kriminal biasa. Ia adalah cermin getir dari rimpangnya kehidupan masyarakat kita. Ketika di satu sisi ada elit politik yang bisa mengantongi penghasilan setara Rp3 juta per hari hanya dari uang harian perjalanan dinas DPR, di sisi lain ada rakyat kecil yang bahkan kesulitan membeli beras atau membayar utang menumpuk. Kontras ini begitu menusuk hati, apalagi peristiwa terjadi di daerah pemilihan (dapil) yang bisa meloloskan sepuluh anggota DPR RI sekaligus.

Bayangkan, seorang anggota DPR bisa mengantongi penghasilan total mencapai Rp50 juta, bahkan lebih dari Rp100 juta per bulan, termasuk gaji pokok, tunjangan rumah, transportasi, hingga uang perjalanan dinas. Sementara itu, pekerja di Bandung rata-rata menerima gaji setara UMK sebesar Rp 3,7 juta per bulan, atau sekira Rp 100 ribu per hari. Dalam satu hari, penghasilan seorang wakil rakyat bisa menyamai gaji sebulan penuh buruh di Bandung—buah ketimpangan yang tak terabaikan.

Jika pekerja "bertahan" dengan gaji segitu, pertanyaannya: bisakah mereka menutup kebutuhan dasar? Perkiraan biaya hidup di Bandung untuk satu orang tanpa sewa sekira Rp 3 juta bahkan lebih. Realitanya, banyak keluarga harus membagi Rp 3,7 juta untuk kebutuhan lebih dari satu orang, menanggung kontrakan, makan, listrik, transport, dan utang.

Surat wasiat EN memperlihatkan betapa utang telah menghancurkan martabat manusia. Ia menulis dengan penuh rasa putus asa bahwa hidupnya hanya berputar dalam lingkaran utang yang tidak berkesudahan. Utang bukan sekadar soal angka, tapi juga soal harga diri, soal bagaimana masyarakat memandang seseorang yang terhimpit finansial.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.