VISI | Tantangan Gen-Z terhadap Dominasi Elit di Asia Selatan
Tren ini mirip dengan kawasan lain di dunia di mana rezim digulingkan oleh pemberontakan, namun institusi tetap utuh. Revolusi 2011 di Mesir adalah contoh yang paling jelas tentang bagaimana harapan bisa dengan mudah hancur ketika militer tetap mengendalikan dan aparat negara tetap tidak berubah.
Yang muncul dari kasus-kasus ini bukanlah sikap acuh tak acuh, tetapi kesimpulan logis kaum muda bahwa politik telah ditutup bagi mereka. Banyak yang migrasi atau menarik diri dalam keheningan hingga tingkat eksklusi mereka menjadi tak tertahankan.
Setelah ambang batas dilampaui, mereka turun ke jalan dengan isyarat simbolis yang lebih menggambarkan keputusasaan daripada manifesto atau proposal kebijakan yang pernah ada.
Apa yang Harus Dipahami Pemerintah Asia Selatan
Tidak dapat disangkal energi dari gerakan-gerakan semacam ini. Tetapi bahaya yang muncul juga sangat jelas. Jika kemenangan mereka hanya menciptakan kekosongan, itu sering kali diisi oleh kekuatan yang mereka lawan atau oleh organisasi otoriter yang mengklaim sedang mengembalikan ketertiban.
Peringatan yang jelas bagi pemerintah Asia Selatan adalah bahwa pemilu ritual, distribusi patronase, dan pertunjukan demokrasi tanpa hasil tidak dapat bertahan lama bagi sistem politik.
Gerakan yang dipimpin oleh pemuda menunjukkan bahwa kemampuan negara untuk meningkatkan peluang dan membangun institusi yang melayani rakyat biasa adalah yang menentukan legitimasi.
Tanpa pekerjaan, pendidikan menjadi lahan subur bagi pemberontakan. Tanpa agen ekonomi, kebebasan politik melahirkan rasa jengkel yang meledak-ledak. Selain itu, kepercayaan terkikis oleh tata kelola yang kurang akuntabilitas, yang akhirnya mengarah pada runtuhnya bahkan otoritas negara yang paling dasar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!